Kisah Haru KH Hasyim Asy’ari Sambut Tamu, Dari Cerita Pepaya hingga Jamuan Makan Bersama
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Dalam tradisi Islam, memuliakan tamu bukan sekadar adab, melainkan cermin kemuliaan akhlak. Nilai itu benar-benar hidup dalam keseharian KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Pahlawan Nasional.
Di kediamannya yang sederhana, tamu datang silih berganti tanpa henti. Dari kiai, santri, petani, saudagar, hingga pejabat pamong praja—semuanya diterima dengan sikap yang sama: hormat, hangat, dan penuh perhatian.
Dikutip dari laman NU dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001), KH Saifuddin Zuhri menulis bahwa rumah Kiai Hasyim setiap hari tak pernah sepi. Jumlah tamu bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan orang.
Menariknya, tak ada jadwal khusus atau janji temu resmi. Siapa pun yang datang dengan niat baik akan diterima, bahkan ketika waktu istirahat sekalipun.
Meski tersedia khadam yang membantu menyajikan hidangan, Kiai Hasyim kerap turun langsung. Beliau sendiri yang meletakkan minuman di hadapan tamu. Jika pembantu sedang beristirahat, beliau tak segan mengambil suguhan dari ndalem—ruang tengah rumahnya.
Sikap sederhana ini membuat tamu merasa dihargai, bukan sekadar diterima.
Jika tamu datang bertepatan dengan waktu makan, hidangan akan langsung digelar. Tidak ada sekat antara tuan rumah dan tamu. Semua duduk bersama.
Dengan tutur kata lembut dan perhatian yang tulus, setiap orang merasa menjadi yang paling dekat di hati Hadratussyekh. Bahkan ketika tamu datang berombongan, masing-masing tetap pulang dengan perasaan istimewa.
“Seolah-olah dialah yang paling disayang,” tulis Saifuddin Zuhri.
Itulah kekuatan akhlak: bukan pada kemewahan jamuan, melainkan pada kehangatan sikap.
Editor : Arif Ardliyanto