get app
inews
Aa Text
Read Next : Panen Melon di Balik Jeruji, Lapas Banyuwangi Buktikan Lahan Sempit Bisa Produktif

Cerita Inspiratif dari Lapas Banyuwangi, Warga Binaan Tulis Al-Quran Raksasa Selama 10 Bulan

Jum'at, 06 Maret 2026 | 05:17 WIB
header img
Kisah inspiratif datang dari Lapas Banyuwangi. Tiga warga binaan berhasil menulis Al-Quran raksasa secara manual yang kini digunakan untuk kegiatan tadarus Ramadan. (Foto Surabaya.iNews.id/siswanto).

Menariknya, ketiga warga binaan yang terlibat dalam proyek ini awalnya tidak memiliki pengalaman menulis Al-Qur'an maupun keterampilan kaligrafi. Mereka belajar dari nol melalui pelatihan intensif yang difasilitasi pihak lapas dengan menghadirkan pengrajin kaligrafi profesional.

Dalam proses pengerjaannya, ketelitian menjadi hal utama. Setiap huruf dan harakat harus ditulis dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan ayat suci.

Karena itu, sebelum digunakan secara resmi, mushaf tersebut terlebih dahulu melalui proses tashih atau pemeriksaan mendalam oleh Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Quran.

“Kami memastikan setiap huruf dan harakatnya benar. Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, ada beberapa bagian yang diperbaiki, kemudian mushaf dijilid kembali untuk memastikan kualitas fisik dan kerapiannya,” jelas Wayan.

Salah satu penulis utama mushaf tersebut, Moch Chanafi, mengaku proses panjang menulis Al-Quran menjadi pengalaman spiritual yang sangat berkesan baginya.

Ia bahkan tidak menyangka bisa menuntaskan karya sebesar itu, mengingat dirinya sebelumnya tidak memiliki kemampuan menulis kaligrafi.

“Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Quran raksasa ini. Awalnya saya tidak bisa sama sekali menulis kaligrafi,” ungkap Chanafi.

Menurutnya, selama proses penulisan ia belajar banyak hal, bukan hanya soal teknik menulis, tetapi juga tentang kesabaran dan pemahaman nilai-nilai dari setiap ayat yang ditulis.

“Selama menulis, saya belajar banyak hal untuk bekal kembali ke masyarakat nanti. Saya jadi lebih sabar dan lebih meresapi nilai-nilai luhur dari setiap ayat yang saya goreskan,” tuturnya.

Kini, mushaf Al-Quran raksasa tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan di Lapas Banyuwangi. Bagi para warga binaan, keberadaannya bukan sekadar karya seni kaligrafi, tetapi juga simbol perubahan diri.

Di balik setiap huruf yang ditulis, tersimpan harapan baru—tentang kesempatan untuk memperbaiki diri dan menyongsong masa depan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut