Penjualan Kendaraan Niaga Terdongkrak Program Makan Bergizi Gratis
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Penjualan kendaraan niaga Suzuki, khususnya Suzuki Carry pick up, mengalami peningkatan signifikan seiring dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di berbagai daerah.
Senior Area Sales Manager PT United Motors Centre (UMC), Wiyarso Adiwibowo, mengatakan program tersebut turut mendorong penyerapan kendaraan niaga Suzuki karena kebutuhan armada distribusi untuk dapur penyedia makanan.
Menurut Wiyarso, kontribusi program MBG terhadap penjualan Suzuki cukup besar. Bahkan, program tersebut diperkirakan dapat menyumbang sekitar 45 persen dari total penjualan Suzuki secara keseluruhan.
“Kalau untuk MBG sendiri secara penjualan cukup mempengaruhi. Kurang lebih bisa menyerap sekitar 45 persen dari total penjualan Suzuki,” ujar Wiyarso, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan, penyerapan kendaraan untuk program MBG masih terus berjalan karena banyak titik dapur yang baru mulai dibuka. Berdasarkan data yang diterimanya, hingga akhir tahun lalu tingkat penyerapan kendaraan baru mencapai sekitar 30 persen.
“Dari data yang kami terima hingga sekitar November kemarin, penyerapannya masih sekitar 30 persen. Masih banyak titik yang belum dibuka,” katanya.
Wiyarso memperkirakan penyerapan kendaraan untuk kebutuhan program MBG akan mencapai puncaknya pada semester pertama tahun 2026, seiring dengan bertambahnya dapur operasional di berbagai daerah.
“Estimasi kami sampai semester pertama 2026 harusnya puncak penyerapan bisa terjadi karena titik-titiknya terus bertambah,” jelasnya.
Tingginya permintaan tersebut bahkan sempat membuat pasokan Suzuki Carry mengalami keterbatasan. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) meningkatkan kapasitas produksi kendaraan niaga tersebut.
“Karena permintaan di seluruh Indonesia cukup banyak, sempat terjadi kekurangan unit. Makanya kapasitas produksi pick up ditambah oleh Suzuki,” ujarnya.
Di wilayah Jawa Timur, peningkatan permintaan juga terlihat cukup signifikan. Sebelum adanya program MBG, penjualan bulanan kendaraan niaga UMC rata-rata berkisar antara 100 hingga 150 unit.
Namun setelah program tersebut berjalan, penjualan sempat melonjak hingga mencapai sekitar 240 unit per bulan. “Sebelum ada MBG rata-rata sekitar 100 sampai 150 unit per bulan. Setelah ada program ini sempat tembus sekitar 240 unit,” kata Wiyarso.
Ia menambahkan, angka tersebut baru mencakup penjualan dari UMC saja dan belum termasuk kontribusi dari dealer lain. Terkait ketersediaan unit, Wiyarso memastikan saat ini pasokan kendaraan masih relatif aman, khususnya untuk wilayah Jawa Timur. Konsumen yang memesan kendaraan pun tidak perlu menunggu terlalu lama.
“Kalau saat ini stok masih cukup aman. Waktu tunggu paling sekitar satu sampai dua minggu sudah bisa dikirim,” jelasnya.
Dari sisi pola pembelian, Wiyarso menyebut transaksi kendaraan untuk kebutuhan program MBG cukup beragam, baik melalui pembelian tunai maupun kredit. “Kalau untuk MBG sendiri kira-kira 50 persen tunai dan 50 persen kredit,” katanya.
Bahkan dalam beberapa kasus, satu pembeli dapat memesan lebih dari satu unit kendaraan sekaligus karena satu titik dapur operasional umumnya membutuhkan minimal dua unit armada pick up untuk distribusi.
“Setiap titik dapur biasanya minimal membutuhkan dua unit armada. Ada juga yang pesan sampai delapan atau sepuluh unit karena dia mengelola beberapa titik sekaligus,” ujarnya.
Wiyarso menegaskan, dalam program MBG tidak ada kewajiban menggunakan merek kendaraan tertentu. Pengelola dapur bebas menentukan armada yang akan digunakan, termasuk merek kendaraan maupun karoserinya.
“Tidak ada kewajiban harus memakai merek tertentu. Mereka bisa memilih sendiri kendaraan yang digunakan sesuai kebutuhan operasional,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto