Pakar Psikologi Ungkap Fakta Baru, Puasa Ramadan Bisa Menguatkan Mental, Begini Penjelasannya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Menjelang waktu berbuka puasa, halaman Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dipenuhi aktivitas yang berbeda dari biasanya. Sejumlah mahasiswa, dosen, hingga masyarakat sekitar tampak berkumpul menikmati suasana ngabuburit yang hangat.
Namun sore itu bukan sekadar menunggu azan magrib. Di tengah pembagian takjil dan agenda buka puasa bersama, para peserta juga diajak memahami sisi lain dari Ramadan: bagaimana puasa ternyata berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.
Dekan Fakultas Psikologi Unesa, Dr. Diana Rahmasari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menyampaikan bahwa puasa memiliki makna lebih luas daripada sekadar menahan lapar dan dahaga. Dalam kajian psikologi, puasa menjadi sarana latihan pengendalian diri yang sangat efektif.
“Puasa dapat dipahami sebagai latihan regulasi diri yang komprehensif. Melalui ibadah ini seseorang belajar menunda dorongan, mengendalikan impuls, dan mengarahkan perilaku sesuai nilai yang diyakini,” ujarnya saat memberikan pemaparan di sela kegiatan ngabuburit.
Menurutnya, proses menahan diri selama berpuasa berkaitan erat dengan fungsi eksekutif otak yang berperan dalam mengatur kontrol diri. Ketika seseorang mampu mengendalikan keinginan dasar seperti makan dan minum, secara tidak langsung kemampuan mengelola emosi juga ikut terlatih.
Kemampuan ini dalam psikologi dikenal sebagai emotional regulation, yakni keterampilan seseorang untuk mengelola emosi agar tetap stabil meskipun berada dalam tekanan.
Editor : Arif Ardliyanto