TKA Berbasis Komputer di Surabaya 2026: Bukan Lagi Soal Hafalan, Ini Tujuan Sebenarnya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ada perbedaan suasana ruang kelas di sejumlah sekolah dasar dan menengah pertama di Surabaya. Bukan lagi lembar soal kertas yang dibagikan, melainkan layar komputer yang kini bakal menjadi “medan” baru bagi puluhan ribu siswa menguji kemampuan mereka.
Tahun 2026, Pemerintah Kota Surabaya resmi menggelar Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis komputer untuk jenjang SD dan SMP. Sistem ini dijalankan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan perangkat di masing-masing sekolah, sekaligus menjawab tantangan digitalisasi pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa TKA bukanlah penentu kelulusan. Lebih dari itu, tes ini menjadi alat untuk melihat sejauh mana kemampuan akademik siswa berkembang.
“TKA ini bukan untuk menentukan lulus atau tidak, tapi untuk mengukur kemampuan siswa secara lebih utuh,” ujarnya.
Berbeda dengan ujian konvensional, TKA tidak lagi digelar serentak dalam satu hari. Siswa akan mengikuti ujian dalam beberapa gelombang dan sesi. Hal ini dilakukan agar keterbatasan perangkat tidak menjadi hambatan.
Dalam praktiknya, satu komputer bisa digunakan oleh beberapa siswa secara bergantian. Menariknya, setiap sesi memiliki paket soal yang berbeda, sehingga tetap menjaga keadilan dan integritas pelaksanaan.
“Dengan sistem ini, semua siswa tetap punya kesempatan yang sama,” jelas Febrina.
Total peserta TKA di Surabaya tahun ini mencapai lebih dari 69 ribu siswa. Untuk jenjang SD, terdapat 35.602 peserta dari 642 sekolah, sementara SMP diikuti 34.381 siswa dari 321 satuan pendidikan.
Tak hanya mengandalkan sistem online penuh, pelaksanaan TKA juga disiapkan dalam berbagai skema, mulai dari semi online hingga offline dengan token. Langkah ini menjadi antisipasi jika terjadi kendala jaringan internet di lapangan.
Di sisi lain, inklusivitas juga menjadi perhatian. Siswa dengan disabilitas netra difasilitasi dengan teknologi screen reader agar tetap bisa mengikuti ujian dengan nyaman.
Yang paling mencolok, TKA tahun ini tidak lagi berfokus pada hafalan. Materi hanya mencakup Matematika dan Bahasa Indonesia, namun dirancang untuk menguji kemampuan berpikir kritis, analisis, dan pemecahan masalah.
“Yang dinilai itu logika dan cara berpikir siswa, bukan sekadar mengingat materi,” tegasnya.
Pelaksanaan TKA untuk SMP dijadwalkan berlangsung pada 6–16 April 2026, sedangkan jenjang SD pada 20–30 April 2026. Setiap sesi tidak hanya berisi ujian utama, tetapi juga latihan serta survei karakter siswa.
Sebelum sampai pada tahap ini, siswa telah melewati berbagai persiapan, mulai dari pendaftaran sejak Januari, simulasi, hingga gladi ujian pada Maret. Bahkan, sekolah juga rutin menggelar try out untuk membantu siswa lebih siap.
Pemkot Surabaya memastikan seluruh infrastruktur pendukung telah disiapkan, mulai dari komputer, jaringan internet, hingga pasokan listrik. Koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk penyedia layanan telekomunikasi dan PLN.
Tak hanya itu, sistem pengawasan diperketat melalui pengawas silang antar sekolah serta pemantauan terpusat guna menjaga transparansi dan kejujuran.
Namun di balik semua kesiapan teknis, ada satu hal yang tak kalah penting: kondisi mental siswa.
Sekolah diminta menciptakan suasana yang nyaman agar TKA tidak menjadi momok menakutkan. Harapannya, siswa bisa menghadapi ujian dengan lebih percaya diri dan tenang.
“TKA jangan jadi beban. Harus dibuat menyenangkan supaya anak-anak siap secara mental,” kata Febrina.
Meski tidak bersifat wajib, TKA tetap didorong untuk diikuti siswa. Hasilnya nanti bisa menjadi bahan evaluasi diri, bahkan pertimbangan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Ke depan, TKA diharapkan tidak hanya menjadi alat ukur semata, tetapi juga pijakan penting dalam memperbaiki kualitas pembelajaran di Surabaya.
Dengan pendekatan berbasis logika dan analisis, hasil TKA diyakini mampu memberikan gambaran yang lebih nyata tentang kualitas pendidikan—bukan sekadar angka, tetapi cerminan kemampuan berpikir generasi masa depan.
Editor : Arif Ardliyanto