get app
inews
Aa Text
Read Next : Banjir Rendam Enam Kecamatan di Probolinggo, 1.222 KK Terdampak

Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla, Khofifah Minta Daerah Bergerak Cepat

Selasa, 07 April 2026 | 19:21 WIB
header img
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (tengah). (Foto: istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, termasuk potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Sebentar lagi musim kemarau. Potensi bencana yang bisa terjadi mari kita antisipasi bersama mulai sekarang,” ujar Khofifah saat Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Antisipasi Kemarau Panjang 2026 di Dyandra Convention Center Surabaya, Selasa (7/4/2026).

Khofifah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, serta menggunakan air secara bijak. Ia menegaskan bahwa Jatim memiliki keragaman potensi bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi hingga kekeringan dan karhutla.

Data menunjukkan, sepanjang 2022 hingga 2025, sebanyak 92–97 persen bencana di Jatim merupakan bencana hidrometeorologi. Sementara pada triwulan pertama 2026, tercatat 121 kejadian bencana, didominasi angin kencang sebanyak 82 kejadian dan banjir 27 kejadian.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman jangka panjang, tetapi sudah menjadi realitas. Respons kita tidak boleh reaktif, harus cepat, terukur, dan berbasis data,” ujarnya.

Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 di Jatim diperkirakan mulai Mei di sekitar 56,9 persen wilayah, dengan puncak pada Agustus yang mencakup 70,9 persen wilayah. Durasi kemarau juga diprediksi cukup panjang, mencapai 220 hingga 240 hari di sejumlah zona musim.

“Artinya, kita akan menghadapi tekanan kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Khofifah.

Dia menyampaikan, kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga berpotensi memicu karhutla serta menurunkan produktivitas pertanian.

Pada puncak kemarau, sekitar 76,7 persen lahan sawah atau setara 921 ribu hektare diperkirakan terdampak. Padahal, total luas lahan baku sawah di Jatim mencapai lebih dari 1,2 juta hektare.

Untuk itu, Pemprov Jatim menyiapkan strategi terpadu lintas sektor, melibatkan BPBD, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, hingga Dinas Lingkungan Hidup.

Strategi tersebut mencakup pencegahan dini melalui sistem peringatan dini (early warning system), respons cepat darat dan udara, hingga pemulihan pasca bencana melalui rehabilitasi lahan dan penegakan hukum.

Sementara untuk mitigasi kekeringan, difokuskan pada penguatan manajemen sumber daya air melalui waduk dan embung, distribusi air bersih, pembangunan sumur bor, serta dukungan pompanisasi bagi sektor pertanian.

“Kolaborasi dan sinergi harus terus diperkuat agar Jatim tetap aman, tangguh, dan produktif menghadapi musim kemarau,” ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut