Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Masuk Kampus Bukan Cuma Cari Gelar, 391 Mahasiswa Baru UWP Diberi Tantangan Ini
Advertisement . Scroll to see content

Inovasi Kampus di Tengah Warga, Ubah Sampah Jadi Sumber Energi Alternatif yang Dibutuhkan Masyarakat

Senin, 13 April 2026 | 12:41 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Inovasi Kampus di Tengah Warga, Ubah Sampah Jadi Sumber Energi Alternatif yang Dibutuhkan Masyarakat
Kolaborasi kampus, pemerintah, dan warga Babat Jerawat Surabaya menguatkan nilai Pancasila melalui pengelolaan sampah ramah lingkungan berbasis partisipasi masyarakat. (Foto: Istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Kelurahan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal, Surabaya. Bukan sekadar ajang silaturahmi pasca-Idulfitri, pertemuan yang digelar di Universitas Wijaya Putra (UWP) ini menjadi ruang bertemunya ide, harapan, dan solusi nyata bagi masyarakat.

Dengan mengusung tema, Memperkuat Silaturahmi, Menjaga Kebersamaan, dan Mendukung Kampung Pancasila, kegiatan ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari perangkat kecamatan dan kelurahan, aparat keamanan, tokoh agama, hingga warga RT/RW duduk bersama, berdialog, dan berbagi gagasan.

Di balik suasana akrab itu, terselip satu semangat besar: menjaga nilai-nilai Pancasila tetap hidup di tengah kehidupan sehari-hari.


Kolaborasi kampus, pemerintah, dan warga Babat Jerawat Surabaya menguatkan nilai Pancasila melalui pengelolaan sampah ramah lingkungan berbasis partisipasi masyarakat. Foto ist

Lurah Babat Jerawat, Sapto Pramoeji, menyebut kegiatan seperti ini bukan hanya seremonial, tetapi bagian penting dari upaya merawat kerukunan di tingkat paling bawah.

“Kebersamaan seperti ini harus terus dijaga. Harapannya, kolaborasi tidak berhenti di momen tertentu, tapi berlanjut dalam program nyata yang menyentuh kebutuhan warga,” ujarnya.

Salah satu yang paling menyita perhatian adalah pembahasan Kampung Pancasila. Ekowati, penggiat lingkungan dari RW 10, menjelaskan bahwa konsep ini tidak hanya soal simbol, tetapi menyentuh aspek kehidupan warga, mulai dari lingkungan, ekonomi, hingga ketahanan sosial budaya.

Menariknya, isu sampah yang selama ini menjadi persoalan klasik justru diangkat sebagai pintu masuk perubahan.

Melalui pemaparan dari dosen Fakultas Teknik UWP, M. Hasan Abdullah, warga diajak melihat sampah dari sudut pandang berbeda. Bukan lagi sebagai beban, tetapi sebagai potensi.

“Pengelolaan sampah bukan hanya soal kebersihan, tapi bagaimana bisa memberi nilai tambah bagi lingkungan dan ekonomi warga,” jelasnya.

Ia mengenalkan berbagai solusi sederhana namun aplikatif, seperti mengolah sampah organik menjadi pupuk, memanfaatkan teknologi insinerator ramah lingkungan, hingga mengubah limbah menjadi biodiesel. Konsep ini disambut antusias warga yang selama ini bergelut dengan persoalan sampah rumah tangga.

Bagi Abdul Hakim, salah satu warga Pakal, kegiatan ini terasa berbeda.

“Biasanya kumpul hanya silaturahmi. Tapi sekarang dapat ilmu baru, bahkan solusi. Ternyata sampah bisa jadi sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya dengan antusias.

Dukungan juga datang dari Camat Pakal, Zainudin Fanani. Ia melihat sinergi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat sebagai kunci utama keberhasilan pembangunan.

“Kolaborasi seperti ini penting, apalagi ada solusi konkret yang langsung bisa diterapkan warga,” katanya.

Sementara itu, Rektor UWP, Dr. Budi Endarto, menegaskan bahwa kampus tidak boleh hanya menjadi pusat akademik, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat sebagai penggerak perubahan.

“Kampus harus menjadi bagian dari solusi. Kami ingin berkontribusi langsung dalam membangun lingkungan yang lebih baik dan harmonis,” ujarnya.

Momen paling menyentuh terjadi saat doa bersama lintas iman dipanjatkan. Dalam suasana hening dan khusyuk, perbedaan keyakinan seolah melebur dalam harapan yang sama: kehidupan yang rukun dan damai.

Acara kemudian ditutup dengan halal bihalal yang penuh keakraban. Iringan musik dari mahasiswa menambah hangat suasana, menghadirkan senyum, tawa, dan jabat tangan penuh makna.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya diucapkan, tetapi bisa diwujudkan dalam aksi nyata. Dari hal sederhana seperti mengelola sampah, hingga mempererat hubungan antarwarga.

Di Babat Jerawat, semangat itu kini tumbuh—pelan tapi pasti—menjadi fondasi menuju kampung yang lebih peduli lingkungan, kuat dalam kebersamaan, dan kaya akan nilai kemanusiaan.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut