Ubaya Menggila di Semifinal Campus League, UB Tak Berdaya Dibantai 105-19
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Atmosfer panas langsung terasa di ajang Campus League musim perdana Regional Surabaya. Persaingan antar kampus berlangsung sengit, namun Universitas Surabaya (Ubaya) justru tampil dominan dan nyaris tanpa cela, terutama di sektor putri.
Pada semifinal ketiga, tim putri Ubaya menunjukkan performa luar biasa saat menghancurkan Universitas Brawijaya (UB) dengan skor mencolok 105-19. Sejak awal laga, Ubaya tampil agresif dan tak memberi ruang bagi lawan untuk berkembang.
Memasuki kuarter kedua, keunggulan Ubaya sudah jauh meninggalkan UB dengan skor 47-14. Selepas jeda, permainan tak banyak berubah. UB sempat mencoba bangkit, namun solidnya pertahanan Ubaya membuat mereka kesulitan mencetak poin. Hingga akhir laga, Ubaya tetap menjaga ritme dan memastikan tiket ke final dengan kemenangan telak.

Pelatih Ubaya, Wellyanto Pribadi, mengaku belum sepenuhnya puas meski timnya menang besar. Ia menilai masih ada sejumlah aspek permainan yang perlu diperbaiki.
“Secara hasil memang baik, tapi permainan anak-anak masih perlu evaluasi. Kami ingin terus meningkatkan kualitas, apalagi tantangan di depan akan lebih berat,” ujarnya usai pertandingan.
Salah satu kunci kemenangan Ubaya datang dari performa impresif Evelyn Fiyo. Pemain timnas basket 3x3 peraih emas SEA Games 2025 Filipina itu mencetak 18 poin dan menjadi motor serangan tim sepanjang laga.
Kapten tim, Mayviana Lysandra Tandiono, menegaskan timnya tidak ingin terlena dengan kemenangan besar ini. Ia menekankan pentingnya evaluasi dan kekompakan tim jelang final.
“Kami harus lebih percaya satu sama lain dan tidak boleh meremehkan lawan. Banyak yang harus diperbaiki dari pertandingan sebelumnya,” katanya.
Final Semakin Panas, Tim Luar Jawa Unjuk Gigi
Campus League Regional Surabaya yang berlangsung di GOR Basket Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini diikuti 17 perguruan tinggi, terdiri dari 16 tim putra dan 8 tim putri.
Di sektor putri, Universitas Ciputra Makassar berhasil melaju ke final setelah mengalahkan Universitas Airlangga dengan skor 52-39. Mereka akan menghadapi Ubaya di partai puncak.
Sementara di sektor putra, kejutan datang dari Universitas Cendrawasih (Uncen) yang tampil impresif usai menundukkan Universitas Negeri Malang 92-63. Kehadiran tim-tim luar Pulau Jawa ini menjadi bukti bahwa persaingan basket kampus kini semakin merata.
Tak hanya tim putri, tim putra Ubaya juga menunjukkan kelasnya. Mereka sukses menumbangkan tuan rumah Unesa dengan skor telak 87-20 pada semifinal terakhir.
Sejak awal pertandingan, Ubaya langsung menekan lewat pertahanan ketat yang membuat Unesa kesulitan mengembangkan permainan. Babak pertama ditutup dengan keunggulan mencolok 46-7.
Di paruh kedua, tekanan Ubaya tidak mengendur. Mereka terus menjaga intensitas hingga akhirnya memastikan kemenangan dan melaju ke final untuk menghadapi Uncen.
Kapten tim Ubaya, Albert Richard, menyebut kekuatan timnya terletak pada regenerasi pemain yang berjalan baik antara senior dan junior.
“Kami selalu bermain maksimal dan mengikuti arahan pelatih. Fokus kami sekarang adalah tetap solid untuk meraih gelar juara,” tegasnya.
Pelatih Ubaya, Ivan Widianto Tjahjono, juga mengapresiasi penampilan timnya, terutama dari sisi pertahanan. Namun ia mengingatkan bahwa laga final akan menjadi tantangan berbeda.
“Kami sudah memahami karakter permainan Uncen. Strategi khusus pasti disiapkan, terutama untuk menghadapi tekanan mereka,” jelasnya.
Head of Competition Campus League, Dave Leopold, menilai Surabaya layak disebut sebagai “ibukota basket kampus”. Hal ini terlihat dari tingginya partisipasi tim pada edisi perdana ini.
Meski kualitas antar tim masih beragam, Dave menilai hal tersebut wajar mengingat Campus League baru pertama kali digelar. Ia optimistis kompetisi ini akan menjadi fondasi penting bagi pembinaan basket kampus di Indonesia.
“Dalam 3 sampai 5 tahun ke depan, kualitas tim akan semakin merata. Campus League ini bukan hanya soal menang atau kalah, tapi membangun ekosistem dan budaya kompetisi yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto