Transformasi Pendidikan di SMA Surabaya, Siswa Dilatih Jadi Peneliti Sejak Bangku Sekolah
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Dunia pendidikan terus mengalami transformasi. Jika sebelumnya siswa identik dengan kegiatan membaca, mencatat, dan menghafal materi pelajaran, kini pendekatan pembelajaran mulai bergeser ke arah yang lebih aplikatif. Siswa didorong menjadi individu yang kritis, mampu mengidentifikasi persoalan di sekitarnya, sekaligus mencari solusi melalui riset.
Transformasi tersebut menjadi salah satu ciri khas pendidikan yang diterapkan SMA Wijaya Putra Surabaya. Melalui pembelajaran berbasis applied research atau riset terapan, para siswa dibekali kemampuan untuk memahami berbagai persoalan sosial dan fenomena global sejak dini.
Hal itu disampaikan Ketua Pembina Yayasan Insan Indonesia Mandiri (YIIM) sekaligus Rektor Universitas Wijaya Putra (UWP), Dr. Budi Endarto, M.Hum, saat menghadiri acara Punawidya atau pelepasan siswa kelas XII SMA Wijaya Putra Surabaya, Sabtu (13/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Budi Endarto mengapresiasi seluruh pihak sekolah yang berhasil menyelenggarakan kegiatan pelepasan siswa secara mandiri. Menurutnya, keberhasilan tersebut mencerminkan karakter kuat dan kemandirian yang telah menjadi budaya di lingkungan pendidikan Wijaya Putra.
Lebih dari itu, ia menilai langkah SMA Wijaya Putra dalam mengenalkan riset terapan kepada siswa merupakan terobosan penting dalam menjawab tantangan pendidikan masa depan.
“Siswa tidak hanya diajak menghafal teori, tetapi didorong untuk peka terhadap berbagai masalah sosial dan fenomena global yang terjadi di sekitar mereka. Melalui applied research, mereka belajar menghubungkan realitas tersebut dengan target Sustainable Development Goals atau SDGs,” ujar Budi Endarto.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan etika. Karena itu, sekolah tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga membangun moralitas sebagai fondasi utama dalam menghadapi perubahan zaman.
“Ketika siswa mempelajari berbagai fenomena global, mereka tetap dibimbing agar menjadikan etika dan nilai moral sebagai kompas dalam mengambil keputusan dan memberikan solusi,” katanya.
Editor: Arif Ardliyanto