Mengintip Tradisi Ithuk-Ithukan Suku Osing, Ritual Sakral yang Dipertahankan Warga Sejak 1617
Setelah didoakan, ribuan ithuk itu diarak dalam pawai budaya menuju sumber mata air. Iringan kesenian tradisional seperti tari Barong, Kuntulan, hingga musik khas Osing menambah semarak suasana. Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan kuat tentang harmoni manusia dan alam.
Puncak acara berlangsung sederhana namun penuh makna: makan bersama di sekitar sumber air, diiringi gemericik aliran yang seolah ikut merayakan kebersamaan. Di momen inilah, batas usia dan status sosial seakan hilang—semua duduk setara, berbagi rezeki dan cerita.
Tradisi ini bahkan telah berlangsung sejak 1617, menurut catatan lokal. Selama lebih dari empat abad, Ithuk-Ithukan tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi perekat sosial warga. Nilai gotong royong terasa kental, bahkan bagi mereka yang tidak hadir tetap mendapat kiriman ithuk ke rumah masing-masing.
Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga warisan ini.
“Ithuk-Ithukan bukan sekadar budaya, tetapi pengingat bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga,” katanya.
Di tengah perubahan zaman, Ithuk-Ithukan hadir sebagai pengingat sederhana namun kuat: bahwa kelestarian alam berawal dari kesadaran bersama. Dengan nilai historis, spiritual, dan ekologis yang melekat, tradisi ini tak hanya layak dilestarikan, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya unggulan Banyuwangi.
Lebih dari itu, Ithuk-Ithukan adalah cerita tentang manusia dan air—tentang rasa syukur, kebersamaan, dan harapan agar kehidupan tetap mengalir, seperti sumber Kajar yang tak pernah kering.
Editor : Arif Ardliyanto