Sekolah Rakyat Dikebut, Gus Ipul Targetkan Juli 2026 Sudah Beroperasi di 90 Titik
Program ini juga berdampak besar pada sektor ketenagakerjaan. Hingga kini, lebih dari 60.000 tenaga kerja terlibat dalam proses pembangunan di berbagai daerah.
Ke depan, pemerintah menargetkan setiap kabupaten/kota memiliki minimal satu Sekolah Rakyat. Jika terealisasi hingga 500 gedung permanen, kapasitas yang tersedia diperkirakan mampu menampung lebih dari 500.000 siswa.
“Kalau ada 500 gedung permanen, maka bisa menampung lebih dari 500.000 siswa. Ini bagian dari strategi pengentasan kemiskinan,” jelasnya.
Jumlah peserta didik dalam program ini juga menunjukkan tren peningkatan. Pada 2025 tercatat sekitar 16.000 siswa, sementara tahun ini ditargetkan bertambah lebih dari 30.000 siswa baru, sehingga total mencapai 46.000 siswa. Angka tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga menembus 100.000 siswa pada 2027.
Namun, tantangan dalam proses pembelajaran tetap ada. Gus Ipul mengakui latar belakang siswa yang beragam menjadi pekerjaan rumah tersendiri, termasuk siswa yang belum memiliki kemampuan dasar membaca meski sudah berada di jenjang setara SMA.
“Di sini tidak ada tes akademik. Yang penting memenuhi syarat administratif sebagai keluarga tidak mampu. Tugas guru adalah membimbing mereka sampai mampu,” katanya.
Tak hanya fokus pada pendidikan anak, program ini juga menyasar pemberdayaan keluarga. Orang tua siswa akan mendapatkan pelatihan keterampilan, bantuan sosial, hingga akses berbagai program pemerintah agar bisa mandiri secara ekonomi.
“Anaknya sekolah, orang tuanya diberdayakan. Harapannya, ketika anak lulus, keluarganya juga naik kelas dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial,” ujarnya.
Terkait transparansi, Gus Ipul memastikan seluruh proses pengadaan dilakukan secara terbuka dan bebas dari praktik korupsi.
“Tidak boleh ada titipan, lobi, atau rekayasa. Kalau ada pelanggaran, saya akan jadi yang pertama melaporkan,” tegasnya.
Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif di era Presiden Prabowo Subianto yang difokuskan untuk memperluas akses pendidikan sekaligus menekan angka kemiskinan di Indonesia.
Editor : Arif Ardliyanto