Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tren Belanja Anak Muda Mulai Berubah, Produk Asal Cina Ini Pilih PIndah ke Penjualan Offline
Advertisement . Scroll to see content

Fast Fashion dan Budaya Buang Pakaian, jadi Ancaman Nyata Lingkungan Kota

Selasa, 12 Mei 2026 | 11:07 WIB
  • author Fahrezi
Fast Fashion dan Budaya Buang Pakaian, jadi Ancaman Nyata Lingkungan Kota
Dunia fesyen bergerak secepat jari melakukan scrolling di layar ponsel. Di tengah gempuran tren yang terus berganti, masyarakat perlahan terjebak dalam budaya konsumtif Foto: Flow

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Fenomena “lapar mata” saat melihat diskon outfit di aplikasi belanja online kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Membeli pakaian baru terasa mudah dan menyenangkan, tetapi banyak orang hanya antusias saat berbelanja, lalu abai ketika pakaian tersebut tidak lagi digunakan. Lemari menjadi penuh, sementara pakaian bekas berakhir di tempat sampah dan menumpuk sebagai limbah tekstil yang sulit terurai.

Dunia fesyen bergerak secepat jari melakukan scrolling di layar ponsel. Di tengah gempuran tren yang terus berganti, masyarakat urban, termasuk di Surabaya, perlahan terjebak dalam budaya konsumtif yang masif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat transaksi e-commerce pada triwulan III 2025 tumbuh 6,19 persen dibanding triwulan sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan aktivitas belanja online yang terus meningkat, termasuk di Surabaya sebagai salah satu pusat transaksi digital terbesar di Jawa Timur.

Pakaian kini bukan lagi sekadar kebutuhan dasar untuk melindungi tubuh. Fesyen telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup, pelampiasan stres, hingga sarana membangun citra di media sosial. Banyak orang ingin selalu tampil berbeda dalam setiap unggahan. Namun di balik kemudahan menekan tombol “checkout”, muncul persoalan besar yang sering diabaikan, yakni limbah tekstil.

Fenomena ini melahirkan pola konsumsi instan. Masyarakat begitu cepat membeli pakaian baru, tetapi enggan bertanggung jawab ketika pakaian mulai pudar, rusak, atau dianggap tidak lagi mengikuti tren. Konsumen menikmati sisi estetika dari fesyen, tetapi menutup mata terhadap dampak sampah yang dihasilkan.

Padahal, pakaian murah yang mudah dibuang memiliki biaya ekologis yang sangat mahal. Banyak orang menganggap membuang baju bekas ke tempat sampah adalah akhir dari persoalan, padahal itu justru menjadi awal masalah lingkungan baru. Serat sintetis seperti polyester dan nilon pada dasarnya merupakan bentuk lain dari plastik. Ketika limbah pakaian berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, material tersebut membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai.

Dalam prosesnya, limbah tekstil dapat menghasilkan gas metana yang memperburuk pemanasan global serta melepaskan mikroplastik yang mencemari tanah dan air. Kebiasaan buang lalu lupakan inilah yang menjadi salah satu ancaman serius bagi lingkungan perkotaan.

Di tengah persoalan tersebut, Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) menghadirkan langkah konkret melalui layanan Kainku. Program ini menjadi salah satu inovasi pengelolaan limbah tekstil berbasis ekonomi sirkular di Surabaya. Kainku tidak hanya menampung pakaian bekas, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mulai bertanggung jawab terhadap limbah fesyen yang mereka hasilkan.

Melalui layanan ini, masyarakat diajak memilah sampah kain agar tidak tercampur dengan sampah rumah tangga lainnya. Kain yang disetorkan kemudian dipilah berdasarkan jenis dan kondisi materialnya. Untuk kain yang sudah tidak layak pakai atau berupa potongan perca, BSIS melakukan proses upcycling atau daur ulang kreatif. Bahkan, masyarakat mendapat nilai ekonomi dari limbah yang disetorkan, yakni sekitar Rp10 ribu per kilogram.

Hasil pengolahan kain bekas tersebut kemudian diubah menjadi berbagai produk baru seperti keset, tas belanja, isian bantal, hingga produk kerajinan tangan lainnya yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Langkah ini menunjukkan bahwa limbah tekstil sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali apabila dikelola dengan tepat.

Pesan utama dari layanan Kainku cukup jelas, tanggung jawab terhadap barang tidak berhenti setelah transaksi selesai dilakukan. Membeli pakaian tanpa memikirkan dampak limbahnya merupakan bentuk ketidakpedulian terhadap lingkungan. Banyak orang bangga tampil modis dengan harga murah, tetapi jarang mempertanyakan siapa yang akan menanggung beban sampah dari pakaian tersebut di masa depan.

Jika jawabannya adalah bumi dan generasi berikutnya, maka gaya hidup konsumtif yang tidak disertai tanggung jawab perlu segera dievaluasi. Kainku hadir sebagai upaya memutus rantai budaya konsumsi sekali pakai yang semakin mengakar di masyarakat.

Selain aspek lingkungan, program ini juga membawa misi edukasi mengenai ekonomi sirkular. Konsep ini menekankan bahwa setiap material harus tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin sehingga tidak langsung menjadi sampah. Mengolah kembali kain bekas dinilai lebih ramah lingkungan dibanding memproduksi bahan baru yang membutuhkan air, energi, dan sumber daya dalam jumlah besar.

Bagi warga Surabaya, mendukung layanan seperti Kainku seharusnya tidak lagi dipandang sekadar pilihan, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama. Sebagai kota metropolitan, Surabaya menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks. Jika pola konsumsi masyarakat tetap sama, kapasitas TPA akan semakin cepat penuh.

BSIS melalui Kainku telah menyediakan akses yang relatif mudah bagi masyarakat untuk mulai berkontribusi. Warga tidak hanya membantu mengurangi limbah tekstil, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang disetorkan melalui sistem tabungan bank sampah.

Sudah saatnya masyarakat mulai meninjau kembali kebiasaan konsumsi fesyen mereka. Menjadi modis tidak harus berujung pada kerusakan lingkungan. Kepedulian terhadap bumi seharusnya berjalan seiring dengan gaya hidup modern.

Kainku menjadi pengingat bahwa setiap keputusan belanja memiliki konsekuensi jangka panjang. Karena itu, langkah sederhana seperti memilah dan menyetorkan pakaian bekas dapat menjadi kontribusi nyata untuk menciptakan Surabaya yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Penulis
Wisnu Rama Ardana (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya)

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut