get app
inews
Aa Text
Read Next : Strategi Omnichannel Jadi Kunci Pengalaman Belanja Tanpa Hambatan di Era Digital

Fenomena Event Lari Bergeser Jadi Gaya Hidup dan Ajang Sosial

Kamis, 21 Mei 2026 | 11:25 WIB
header img
Crystalin Gelar Event Lari Perdana di Surabaya, Hadirkan Kategori 2,5K hingga 10K

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tren event lari di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Tak lagi sekadar kompetisi olahraga, ajang lari kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, hiburan, hingga ruang bersosialisasi bagi masyarakat.

Sport enthusiast Michelle Kasendra menilai fenomena tersebut mengalami pergeseran signifikan dibanding beberapa tahun lalu. Jika dulu peserta mengikuti race untuk mengejar podium atau memecahkan catatan waktu pribadi, kini banyak yang menjadikan event lari sebagai bentuk perayaan dan pengalaman sosial.

“Kalau dulu orang ikut race itu berlomba untuk podium atau mengalahkan personal best sendiri. Tapi sekarang fenomenanya sudah berubah, lebih ke perayaan atau festival,” ujar Michelle, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya minat masyarakat mengikuti event lari. Banyak peserta kini berburu pengalaman, dokumentasi foto, hingga medali unik untuk dibagikan di media sosial.

“Sekarang orang ikut race juga berburu fotografer, cari medali yang bagus, supaya kontennya menarik di sosial media,” katanya.

Michelle menambahkan, tren hidup sehat yang meningkat pasca pandemi juga menjadi faktor utama menjamurnya komunitas lari di berbagai daerah. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan perlahan membentuk budaya baru yang didukung kuat oleh media sosial.

“Setelah pandemi orang-orang jadi lebih sadar hidup sehat. Mereka bikin konten olahraga, lalu memengaruhi orang lain untuk ikut hidup sehat juga,” jelasnya.

Dari situ, kata dia, mulai bermunculan komunitas-komunitas lari yang kemudian memicu lahirnya berbagai event berskala besar. Fenomena tersebut pada akhirnya juga memunculkan efek fear of missing out (FOMO) di masyarakat.

“Karena banyak event besar dan ramai di media sosial, orang jadi ikut-ikutan pengen mencoba race juga,” ujarnya.

Meski demikian, Michelle melihat tren tersebut membawa dampak positif karena mendorong masyarakat lebih aktif berolahraga dan memperluas relasi sosial. Menurutnya, suasana dalam event lari juga menciptakan energi positif antar peserta.

“Kita sudah capek kerja, banyak tekanan. Tapi saat ikut race, banyak orang saling menyemangati meskipun tidak saling kenal. Itu bikin happy,” katanya.

Tak hanya olahraga, event lari kini juga menjadi sarana menikmati pengalaman baru, mulai dari wisata kuliner hingga menjelajahi suasana kota penyelenggara.

“Yang penting sekarang itu experience-nya. Tiap event punya pengalaman berbeda yang bikin orang ingin ikut lagi,” pungkas Michelle.

dr Febriyanti Chandra menambahkan, di balik tren olahraga lari yang terus meningkat, persiapan fisik yang matang menjadi faktor penting untuk mencegah cedera hingga insiden kesehatan saat perlombaan berlangsung.

Ia mengingatkan, peserta tidak boleh melakukan persiapan secara mendadak, terutama bagi pelari pemula. Menurutnya, tubuh perlu dibiasakan secara bertahap agar siap menghadapi aktivitas lari dengan intensitas tertentu.

“Yang paling penting adalah fisik disiapkan lebih dulu. Mau olahraga apa pun termasuk lari, kita harus siapkan fisik dulu. Jadi tidak bisa mendadak baru latihan beberapa hari sebelum hari H atau langsung ikut lari,” ujar dr Febriyanti.

Ia menjelaskan, latihan idealnya sudah dimulai sekitar tiga hingga empat bulan sebelum perlombaan. Bagi pemula, latihan dapat dimulai dari jarak pendek kemudian ditingkatkan perlahan sesuai target jarak yang akan ditempuh saat lomba.

“Kalau langsung mencoba jarak jauh tanpa latihan bertahap, risikonya besar untuk terjadi cedera atau kelelahan,” katanya.

Selain latihan fisik, dr Febriyanti menekankan pentingnya menjaga kondisi tubuh menjelang perlombaan. Menurutnya, peserta perlu mengurangi intensitas latihan satu hingga dua minggu sebelum hari H agar tubuh memiliki cadangan energi yang cukup.

“Kita butuh cadangan energi besar pada hari H supaya waktu lari benar-benar fit. Jadi tubuh harus diistirahatkan, tidur cukup 7–8 jam sehari, dan asupan makan juga harus dijaga,” jelasnya.

Ia juga menyarankan peserta menambah konsumsi karbohidrat menjelang perlombaan sebagai sumber energi tambahan. Pada hari pelaksanaan, peserta diminta datang lebih awal agar memiliki waktu untuk melakukan pemanasan.

“Jangan langsung lari. Otot dan jantung harus dipersiapkan dulu lewat pemanasan supaya tubuh tidak kaget,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr Febriyanti mengingatkan peserta memastikan kondisi tubuh benar-benar sehat sebelum mengikuti event lari, terutama bagi peserta usia 40 tahun ke atas atau yang baru mulai berolahraga.

“Kalau punya penyakit penyerta atau baru mulai olahraga, sebaiknya lakukan medical check up lebih dulu untuk memastikan tubuh aman mengikuti event,” katanya.

Terkait penanganan cedera saat perlombaan, dr Febriyanti meminta peserta tidak memaksakan diri apabila mulai merasakan nyeri atau gangguan fisik tertentu.

“Kalau sudah ada cedera atau keluhan, jangan dipaksakan. Istirahat dulu dan sebaiknya diperiksa tenaga medis agar diketahui jenis cederanya dan penanganannya tepat,” tandasnya.

Sementara itu, Crystalin akan menggelar event lari di Surabaya pada Minggu (19/7/2026). Terdapat tiga kategori dari event ini, yakni 2,5 K, 5 K dan 10 K. 

Managing Director Crystalin, Wijoyo Setionegoro, mengatakan olahraga lari kini menjadi sarana masyarakat menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan keluarga, dan kesehatan.

“Kami melihat efek lari itu sekarang tidak cuma soal orang berlari, tapi sudah menjadi lifestyle dan budaya bagi masyarakat modern untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga,” ujar Wijoyo.

Menurutnya, perkembangan tren tersebut mendorong Crystalin untuk terus berkontribusi dalam mendukung gaya hidup sehat masyarakat melalui penyelenggaraan event lari.

“Sebagai brand, kami berkomitmen untuk hadir dan berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat Indonesia melalui event lari,” katanya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut