Sinopsis Film Semua Akan Baik-Baik Saja, Drama Keluarga dengan Pesan Inklusivitas
JAKARTA, iNewsSurabaya.id – Film Semua Akan Baik-Baik Saja menjadi salah satu drama keluarga Indonesia yang mencuri perhatian publik.
Disutradarai oleh Baim Wong, film ini menghadirkan kisah emosional tentang kehilangan, konflik keluarga, hingga perjuangan mempertahankan kehangatan di tengah luka yang belum pulih.
Cerita berpusat pada Langit, karakter yang diperankan Reza Rahadian. Hidupnya berubah drastis setelah sang kakak, Mentari, meninggal dunia secara mendadak dan meninggalkan tiga anak. Situasi tersebut membuat Langit kembali ke rumah keluarga dan perlahan mengambil peran sebagai sosok pengganti orang tua bagi para keponakannya.
Namun, kehadiran Langit tidak langsung diterima. Malikha, anak sulung Mentari, menyimpan luka batin dan kekecewaan terhadap keluarganya. Konflik demi konflik pun muncul hingga membuat hubungan keluarga mereka dipenuhi ketegangan emosional.
Film berdurasi sekitar 1 jam 53 menit ini juga diperkuat deretan pemain lintas generasi seperti Christine Hakim, Raihaanun, Ari Irham, hingga Happy Salma. Kehadiran para pemain tersebut membuat drama keluarga dalam film terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di balik konflik keluarga yang menjadi inti cerita, ada satu karakter yang justru mencuri perhatian penonton, yakni Alim. Sosok penyandang disabilitas tersebut tampil sederhana, namun memiliki makna penting dalam perjalanan emosional film.
Karakter Alim lahir dari pengalaman pribadi Baim Wong saat bertemu pekerja disabilitas di sebuah kedai kopi bernama Alim. Pengalaman tersebut membuatnya tergerak menghadirkan representasi yang lebih inklusif di layar lebar.
“Saya pertama ketemu mereka di Kopi Kamu, yang mempekerjakan penyandang disabilitas sebagai waiter. Dari situ saya tergerak,” ujar Baim Wong, Kamis (21/5/2026).
Dari pertemuan tersebut, Baim memutuskan melibatkan aktor disabilitas dalam film garapannya. Menurutnya, kehadiran karakter Alim bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan simbol bahwa setiap orang memiliki nilai dan kesempatan yang sama.
“Sesimpel saya tergerak sebagai manusia, lalu saya berpikir, ‘Saya juga mau buat film yang ada mereka’,” katanya.
Baim mengakui keputusan tersebut bukan hal mudah mengingat produksi film membutuhkan biaya besar. Namun, ia tetap melanjutkan gagasannya karena ingin memberi ruang dan kepercayaan diri bagi penyandang disabilitas.
“Saya ingin orang-orang seperti mereka punya kepercayaan diri dan merasa bahwa mereka memiliki value dalam diri mereka,” tuturnya.
Editor : Arif Ardliyanto