Disertasi Doktor Herlina Ungkap Faktor yang Buat Kader Partai Tetap Loyal, Ini Temuanya
Dalam sesi ujian terbuka, Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Andik Matulessy, meminta Herlina menjelaskan kontribusi teoritis utama dari penelitiannya terhadap perkembangan psikologi politik di Indonesia.
Menjawab pertanyaan tersebut, Herlina mengungkapkan temuan menarik. Ia menyebut bahwa loyalitas emosional kader partai lebih banyak dibentuk oleh identitas sosial dan kepemimpinan transformasional dibanding hubungan yang bersifat transaksional.
“Komitmen afektif kader partai lebih dipengaruhi oleh kuatnya identitas sosial dan kepemimpinan transformasional. Sebaliknya, hubungan yang terlalu transaksional justru dapat mengurangi keterikatan emosional terhadap partai,” jelasnya.
Temuan ini sekaligus memperluas pemahaman terhadap Social Exchange Theory yang selama ini beranggapan bahwa hubungan timbal balik akan memperkuat komitmen seseorang terhadap organisasi.
Menurut Herlina, dalam konteks politik Indonesia yang masih kental dengan patronase, ketimpangan distribusi sumber daya, serta dominasi figur tertentu, hubungan transaksional tidak selalu melahirkan loyalitas yang kuat.
“Komitmen kader ternyata lebih ditentukan oleh seberapa besar mereka merasa menjadi bagian dari partai, bukan semata-mata karena apa yang diberikan partai kepada mereka,” tegasnya.
Tim penguji juga menyoroti komposisi responden penelitian yang sekitar 27,9 persen berasal dari Partai Demokrat, partai tempat Herlina bernaung.
Menanggapi hal itu, Herlina secara terbuka mengakui adanya potensi researcher proximity bias atau bias kedekatan peneliti. Ia menjelaskan bahwa akses jaringan yang dimilikinya sebagai kader Demokrat membuat jumlah responden dari partainya lebih besar dibandingkan partai lain.
Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut tidak memengaruhi validitas hasil penelitian.
Menurutnya, penelitian yang dilakukan tidak bertujuan membandingkan satu partai dengan partai lainnya, melainkan menguji hubungan antarvariabel seperti identitas sosial, kepemimpinan transformasional, pertukaran sosial, dan komitmen afektif kader.
“Penelitian ini menguji model hubungan antar konstruk, bukan membandingkan kelompok. Karena itu, hasilnya tetap kuat meskipun distribusi responden tidak sepenuhnya seimbang,” jelas Herlina.
Ia juga menekankan bahwa karakter politik Indonesia yang cenderung patronase dan berorientasi pada figur merupakan fenomena yang terjadi di hampir seluruh partai politik, bukan hanya Partai Demokrat.
Karena itu, hasil penelitian tersebut dinilai tetap relevan untuk menggambarkan mekanisme pembentukan komitmen afektif anggota DPRD di Jawa Timur secara umum.
Di balik keberhasilannya meraih gelar doktor, Herlina mengaku sempat menghadapi masa-masa sulit selama menempuh pendidikan.
Dalam pidato penutupnya, ia mengungkapkan pernah mengalami periode hampir tiga semester tanpa perkembangan signifikan dalam proses studinya. Namun, tekad untuk terus melangkah membuatnya mampu bangkit dan menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan hingga tuntas.
Perjalanan itu dijalani di tengah berbagai tanggung jawab sebagai anggota DPRD, kader partai, istri, dan ibu.
“Keberhasilan bukan milik mereka yang paling cepat, tetapi milik mereka yang tidak berhenti berjalan,” ungkap Herlina.
Bagi Herlina, gelar doktor yang diraihnya bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus berkontribusi pada pengembangan ilmu psikologi politik di Indonesia.
“Saya berharap capaian ini tidak berhenti pada diri saya sendiri, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto