Tak Semua Mahasiswa Bisa, Annisa Berhasil Lolos Magang Internasional di Hotel Mewah Thailand
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Dunia kerja kini tak lagi mengenal batas negara. Menjawab tantangan tersebut, sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur mulai memperluas pengalaman mahasiswanya melalui program magang internasional. Salah satu kisah inspiratif datang dari Annisa Putri Anggraini, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Untag Surabaya yang berhasil menembus industri perhotelan internasional di Thailand.
Mahasiswa angkatan 2023 itu saat ini menjalani program magang melalui Walailak University Thailand dan dipercaya bertugas sebagai spa receptionist di Santiburi Koh Samui, salah satu hotel berbintang lima yang melayani wisatawan dari berbagai negara.
Program tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Annisa untuk mengenal langsung standar kerja industri hospitality bertaraf internasional. Tak hanya mengasah kemampuan bahasa Inggris, ia juga belajar memahami budaya kerja lintas negara, pelayanan premium, hingga membangun komunikasi dengan tamu dari berbagai latar belakang.

Kesempatan emas itu tidak diperoleh secara instan. Annisa mengawali perjalanannya dengan mencari informasi program secara mandiri sebelum mengikuti serangkaian tahapan seleksi.
Proses yang dijalani meliputi penyusunan esai, wawancara bersama pihak Untag Surabaya, wawancara dengan pihak hotel, hingga tahap akhir bersama manajer Departemen Spa.
Menurut Annisa, persiapan menjadi faktor utama yang membawanya lolos dalam seleksi tersebut.
"Persiapan yang paling membantu adalah meningkatkan kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris, terutama untuk menghadapi wawancara. Selain itu, saya juga mempersiapkan CV dengan sebaik mungkin, mempelajari profil perusahaan tempat saya akan magang, serta melatih cara menjawab pertanyaan interview dengan percaya diri," ujarnya.
Sebagai spa receptionist, Annisa menjadi wajah pertama yang menyambut para tamu. Tugasnya meliputi menerima reservasi, menjelaskan layanan spa, mengatur jadwal terapis, menerima panggilan telepon, hingga berkoordinasi dengan berbagai departemen hotel.
Setiap hari ia berinteraksi dengan wisatawan dari berbagai negara. Pengalaman tersebut memperkaya kemampuan komunikasi, pelayanan pelanggan, serta meningkatkan profesionalisme dalam menghadapi lingkungan kerja internasional.
Di balik pengalaman berharga tersebut, Annisa mengaku sempat mengalami culture shock saat pertama kali bekerja di Thailand.
Tantangan terbesar datang dari perbedaan aksen bahasa Inggris yang digunakan masyarakat setempat.
"Salah satu culture shock yang paling saya rasakan adalah cara orang Thailand berbicara menggunakan bahasa Inggris. Awalnya saya sering bingung karena pengucapannya berbeda dengan yang biasa saya pelajari. Misalnya, kata yang berakhiran huruf 'L' sering terdengar seperti 'N', atau huruf 'S' terdengar seperti 'T'," ungkapnya.
Namun, seiring waktu, ia mulai terbiasa karena setiap hari harus berkomunikasi dengan tamu dan rekan kerja. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa kemampuan berbahasa Inggris juga harus dibarengi dengan kemampuan memahami beragam aksen dari berbagai negara.
Selain kemampuan bahasa, Annisa juga mempelajari budaya kerja di Thailand yang mengedepankan disiplin, ketepatan waktu, kerja sama tim, serta pelayanan prima.
Seluruh pekerjaan dilakukan berdasarkan standar operasional yang jelas sehingga setiap karyawan memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing.
Annisa menilai bekal yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Budaya Untag Surabaya sangat membantunya beradaptasi di lingkungan kerja internasional.
"Selama kuliah saya belajar kemampuan berbahasa Inggris, komunikasi, public speaking, serta bekerja sama dalam tim melalui berbagai kegiatan akademik maupun organisasi. Pengalaman tersebut sangat membantu ketika saya harus berkomunikasi dengan tamu internasional dan bekerja sama dengan rekan kerja dari berbagai negara," jelasnya.
Bagi Annisa, pengalaman magang di hotel berbintang lima menjadi investasi penting untuk membangun karier di industri hospitality global. Ia berharap pengalaman tersebut membuka peluang bekerja, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Ia pun membagikan pesan kepada mahasiswa lain yang ingin mengikuti program internasional.
"Jangan takut mencoba dan jangan menunggu kesempatan datang. Jika memiliki impian mengikuti program internasional, mulailah mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris, bangun rasa percaya diri, dan berani keluar dari zona nyaman. Setiap tantangan akan menjadi pelajaran berharga untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja global," pesannya.
Program magang lintas negara yang dijalani Annisa menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki peluang besar bersaing di tingkat internasional. Selain memperoleh pengalaman profesional, mereka juga mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya, adaptasi, dan kesiapan menghadapi persaingan dunia kerja global.
Editor : Arif Ardliyanto