Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Luruskan Informasi, KH Ismail Ghofur dan Kiai Kalbar Tegaskan Tak Hadiri Pertemuan 8 Agustus
Advertisement . Scroll to see content

Muktamar NU Memanas, Kiai Jombang Tegas Tolak Politik Uang, Singgung Sosok Ideal Ketua PBNU

Senin, 27 Juli 2026 | 11:55 WIB
  • author Zainul Arifin
Muktamar NU Memanas, Kiai Jombang Tegas Tolak Politik Uang, Singgung Sosok Ideal Ketua PBNU
Kiai Jombang KH Mustain Hasan mengingatkan bahaya politik uang menjelang Muktamar NU ke-35. Ia menegaskan pemimpin PBNU harus berkhidmat dan menjaga nilai para muassis. Foto iNewsSurabaya.id/zainul

JOMBANG, iNewsSurabaya.id – Suasana menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mulai diwarnai berbagai dinamika menjelang pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Di tengah munculnya sejumlah nama calon yang diperbincangkan, Kiai asal Jombang, KH Mustain Hasan, mengingatkan agar proses pemilihan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri NU serta menjauhi praktik politik uang.

Menurut KH Mustain Hasan, sosok yang layak memimpin PBNU bukan hanya memiliki kapasitas organisasi, tetapi juga menunjukkan dedikasi penuh dalam berkhidmat kepada NU serta mampu menjaga cita-cita para muassis, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, dan para pendiri lainnya.

"Yang paling penting adalah menjiwai semangat para pendiri NU, mengabdi dengan tulus, bukan berlomba mengejar jabatan," ujar KH Mustain Hasan saat ditemui di kediamannya di Jombang.

KH Mustain Hasan menilai praktik politik uang menjadi ancaman serius yang harus dihindari dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU. Ia berharap Muktamar tidak berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan seperti kontestasi politik praktis.

Ia mengingatkan sejarah Muktamar NU pertama ketika saudagar Hasan Gipo justru enggan menerima amanah sebagai Ketua Umum PBNU karena merasa khawatir tidak mampu menjalankan tanggung jawab tersebut. Sikap serupa juga pernah ditunjukkan Ketua Umum PBNU ketiga, KH Mahfudz Siddiq.

"Kalau sekarang memang situasinya tidak persis sama seperti masa para pendiri, tetapi semangatnya harus tetap hidup. Jangan sampai terjadi rebutan jabatan, apalagi sampai ada money politik seperti pilkades atau pilpres. Itu bukan adab warga NU," tegasnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut