Dianggap Tanaman Liar, Kumis Kucing Disulap Jadi Teh Herbal hingga Produksi 200 Kemasan per Pekan
Tanaman yang telah dipanen kemudian melalui sejumlah tahapan pengolahan hingga menjadi teh herbal. Dari sekitar 500 kilogram bahan tanaman, Herwanto dapat menghasilkan sekitar 50 hingga 60 kilogram produk teh herbal.
Produk tersebut selanjutnya dikemas secara rapi dan higienis sebelum dipasarkan. Dalam sepekan, produksi yang dilakukan Herwanto dan dua rekannya dapat mencapai sekitar 200 kemasan.
Berawal dari Tanaman Liar
Bagi sebagian masyarakat, kumis kucing mungkin hanya dipandang sebagai tanaman liar yang tumbuh di halaman atau lahan kosong. Namun, Herwanto melihat peluang lain dari tanaman tersebut.
Ia berusaha mengubah tanaman yang sering dianggap tidak bernilai menjadi produk herbal yang memiliki nilai ekonomi. Teh kumis kucing hasil produksinya kini dijual dengan harga sekitar Rp40 ribu per kemasan.
“Target saya, melalui budidaya tanaman liar kumis kucing yang diolah menjadi teh herbal kesehatan ini, minimal saya bisa membantu masyarakat dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyakit,” katanya.
Herwanto menyebut produk teh herbal tersebut banyak diminati masyarakat yang mencari alternatif minuman herbal untuk mendukung pola hidup sehat. Selain dikaitkan dengan kesehatan ginjal, kumis kucing secara tradisional juga dikenal masyarakat untuk berbagai kebutuhan kesehatan.
Meski demikian, Herwanto tidak ingin produknya dipandang sebagai pengganti pengobatan medis. Menurutnya, teh herbal yang diproduksinya lebih diarahkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Ingin Budidaya Semakin Berkembang
Pengembangan tanaman kumis kucing tidak berhenti pada produksi teh herbal. Herwanto berharap budidaya tersebut dapat terus berkembang sehingga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat sekitar.
Menurutnya, lahan kosong sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif apabila dikelola dengan baik. Tanaman yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi pun bisa dikembangkan menjadi komoditas yang menghasilkan.
Ia juga berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal potensi tanaman herbal di lingkungan sekitar sekaligus tetap memperhatikan aspek keamanan dan penggunaan yang tepat.
“Harapan saya, produk ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Yang terpenting, masyarakat juga tetap menjaga pola hidup sehat dan tidak mengabaikan pemeriksaan serta pengobatan medis ketika mengalami masalah kesehatan,” pungkas Herwanto.
Kisah Herwanto menunjukkan bahwa tanaman yang kerap dianggap gulma ternyata bisa memiliki nilai ekonomi. Dari lahan kosong di sekitar rumah, ia mengembangkan kumis kucing menjadi produk teh herbal dengan produksi mencapai ratusan kemasan setiap pekan.
Editor : Arif Ardliyanto