get app
inews
Aa Text
Read Next : Ritel Jatim Masih Tumbuh, APPBI Sebut Konsumen Kini Lebih Selektif Berbelanja

Daya Beli Kelas Menengah Tertekan, Rumah Premium di Atas Rp3 Miliar Tetap Laris

Senin, 10 Agustus 2026 | 07:49 WIB
header img
Salah satu unit rumah di klaster Yellow Leaf CitraLand Puncak Tidar Malang. (Foto : Lukman Hakim).

MALANG, iNewsSurabaya.id – Pasar properti residensial di Indonesia mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal II 2026. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penjualan properti residensial di pasar primer masih mengalami kontraksi secara tahunan sebesar 2,36 persen, tetapi membaik signifikan dibandingkan kuartal I 2026 yang terkontraksi 25,67 persen.

Perbaikan terutama terjadi pada penjualan rumah tipe kecil dan besar. Penjualan rumah tipe kecil masih terkontraksi 2,88 persen secara tahunan, tetapi jauh membaik dibandingkan kontraksi 45,59 persen pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, penjualan rumah tipe besar justru tumbuh 13,08 persen, berbalik dari kontraksi 8,03 persen pada kuartal I 2026.

Sebaliknya, penjualan rumah tipe menengah masih menghadapi tekanan. Penjualan pada segmen tersebut terkontraksi 10,51 persen pada kuartal II 2026, setelah sebelumnya tumbuh 8,28 persen pada kuartal I.

Kondisi tersebut turut terlihat pada pasar properti yang digarap pengembang. Direktur PT Ciputra Development Tbk, Agung Krisprimandoyo, mengatakan penjualan sejumlah proyek perusahaan pada semester I 2026 cukup menggembirakan.

Menurutnya, beberapa proyek bahkan telah merealisasikan sekitar 50 hingga 60 persen dari target penjualan tahunan. Kondisi tersebut membuat perusahaan menaikkan target penjualan di sejumlah wilayah, termasuk Malang, Gresik, dan Sidoarjo, sekitar 10 persen.

“Beberapa proyek itu penjualannya di semester satu cukup menggembirakan. Artinya, 50 sampai dengan 60 persen dari target tahunan itu tercapai,” ujar Agung, Minggu (9/8/2026).

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang menopang penjualan adalah masih kuatnya permintaan dari segmen premium. Menurutnya, konsumen dengan daya beli tinggi relatif masih memiliki kemampuan untuk membeli properti, terutama rumah dengan ukuran dan spesifikasi lebih besar.

“Memang ada beberapa segmen yang sophisticated masih kuat, yaitu segmen yang lebih di atas, yang premium,” katanya.

Agung menyebut sejumlah proyek di Malang, Gresik, dan Sidoarjo justru mencatat penjualan yang baik pada produk rumah berukuran besar. Harga rumah pada segmen tersebut umumnya berada di atas Rp3 miliar, bahkan terdapat produk dengan harga sekitar Rp5 miliar hingga Rp7 miliar.

Meski jumlah unit yang terjual tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, nilai transaksi menjadi lebih besar karena produk yang dibeli memiliki ukuran dan harga yang lebih tinggi.

“Secara unit sama. Dibanding tahun lalu secara unit sama, tetapi karena volumenya rumahnya besar-besar, makanya di beberapa proyek itu cukup bagus penjualannya,” jelasnya.

Sebaliknya, kondisi pasar kelas menengah hingga bawah dinilai masih menghadapi tantangan. Agung mengatakan pasar rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar masih cukup berat, seiring daya beli kelas menengah yang tertekan atau sebagian konsumen memilih menunda pembelian.

“Kalau di pasar yang di bawah Rp1 miliar itu memang sangat berat,” ungkapnya.

Berikut versi berita yang sudah disusun lebih terstruktur, sistematis, dan bernuansa bisnis/properti, dengan fokus pada penjualan dan harga rumah di klaster Yellow Leaf Puncak Tidar Malang.

Sementara itu, PT Ciputra Development Tbk melalui, CitraLand Puncak Tidar Malang kembali menawarkan hunian eksklusif melalui klaster Yellow Leaf. Berada di kawasan Puncak Tidar yang dikenal sebagai salah satu kawasan premium di Kota Malang, klaster ini menawarkan rumah dua lantai dengan harga mulai Rp1,85 miliar hingga lebih dari Rp8 miliar.

Marketing Manager CitraLand Puncak Tidar Malang, Wilissanti Giwang K, mengatakan klaster Yellow Leaf menjadi bagian dari pengembangan kawasan Puncak Tidar. Pada tahap pertama, kawasan tersebut dikembangkan di atas lahan sekitar 32 hektare dengan total 208 unit yang terbagi dalam beberapa klaster.

“Di tahap pertama ada sekitar 32 hektare dan 208 unit. Nantinya ada lima klaster,” kata Wilissanti.

Secara keseluruhan, penjualan hunian di kawasan Puncak Tidar telah mencapai sekitar 360 unit. Sementara total pengembangan kawasan diproyeksikan mencapai sekitar 900 unit.

Untuk klaster Yellow Leaf, seluruh rumah dirancang dengan konsep hunian dua lantai. Beberapa tipe juga menawarkan bangunan tiga lantai untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang menginginkan ruang lebih luas. Harga rumah di klaster Yellow Leaf bervariasi, mulai sekitar Rp1,7 miliar hingga Rp8 miliar, tergantung tipe, luas tanah dan bangunan.

Wilissanti mengatakan tingkat hunian di kawasan tersebut saat ini telah mencapai sekitar 70 persen. Selain pembeli baru, sekitar 20 persen konsumen disebut merupakan pelanggan yang kembali membeli atau melakukan pembelian ulang di kawasan CitraLand Puncak Tidar.

Pengembangan Puncak Tidar sendiri mulai dilakukan sejak 2021. Saat ini, unit yang masih tersedia dan siap dipasarkan hanya sekitar 10 unit. Untuk memberikan gambaran langsung kepada calon konsumen, pengembang juga menyediakan enam unit rumah contoh di klaster Yellow Leaf.

“Targetnya dalam dua tahun sudah habis. Unitnya juga sudah siap dibangun,” ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut