Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : ATM Emas Pegadaian Dongkrak Penjualan, Nasabah Tak Perlu Ribet Cetak Emas Fisik
Advertisement . Scroll to see content

Bisnis Emas Mulai Melambat, Anehnya Kinerja BUMN Gadai di Jatim Ini Justru Tembus Rp16,7 Triliun

Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:34 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Bisnis Emas Mulai Melambat, Anehnya Kinerja BUMN Gadai di Jatim Ini Justru Tembus Rp16,7 Triliun
Kinerja Pegadaian Jawa Timur semester I 2026 mencapai Rp16,7 triliun, naik dari Rp15,05 triliun di tengah perubahan transaksi emas. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

Pada awal tahun, Pegadaian memasang target kinerja hingga sekitar Rp20 triliun. Namun, perkembangan bisnis selama semester pertama membuat proyeksi tersebut mulai disesuaikan dengan kondisi pasar.

“Prediksi kita kemarin itu di Rp20 triliun. Tetapi karena mengalami kelambatan, posisinya paling di angka Rp18 triliun sesuai awal kita memprediksi itu,” jelas Ahmad.

Ahmad mengatakan, perusahaan sebenarnya masih berharap dapat mencapai angka lebih tinggi apabila kondisi pasar kembali mendukung.

“Kita pengin bisa mencapai Rp20,5 triliun itu, tetapi ternyata ini mengalami kelambatan sehingga masih Rp16,7 triliun,” katanya.

Salah satu dinamika yang terlihat selama semester pertama 2026 adalah perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi emas.

Harga emas yang berada pada level tinggi membuat sebagian pemilik emas memilih menjual asetnya. Langkah tersebut dilakukan untuk merealisasikan keuntungan setelah harga emas mengalami kenaikan.

Menurut Ahmad, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar karena sebagian masyarakat memang membeli emas dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga.

“Orang punya emas itu stoknya banyak di pasaran dan kecenderungan harga itu sudah tinggi. Orang memang berupaya bagaimana menjual karena sudah untung banyak. Logislah manusia berusaha untuk menjual,” ungkapnya.

Namun, tidak semua masyarakat menjadikan emas sebagai instrumen perdagangan jangka pendek. Sebagian lainnya tetap mempertahankan emas sebagai tabungan maupun investasi.

“Kalau masyarakat ini kepemilikan emas tujuannya untuk nabung, sebenarnya tetap saja. Mereka yang pengen perhiasan ya tetap perhiasan, kemudian yang ingin punya tabungan emas tetap ada,” katanya.

Ahmad menilai pola transaksi selama semester pertama 2026 memang tidak seramai ketika harga emas mengalami kenaikan tinggi dan hampir seluruh kelompok masyarakat aktif melakukan transaksi.

“Memang enggak sebanyak yang kemarin, karena pada saat itu semua orang, baik yang motifnya trading mencari untung ataupun yang investasi, bareng kemarin,” ujarnya.

Dengan demikian, capaian Rp16,7 triliun sepanjang semester pertama menjadi gambaran penting mengenai kondisi bisnis Pegadaian Jawa Timur. Di satu sisi, kinerja masih tumbuh, tetapi di sisi lain perusahaan harus menghadapi perubahan perilaku masyarakat akibat tingginya harga emas.

Capaian tersebut selanjutnya menjadi pijakan Pegadaian Jawa Timur untuk menghadapi semester kedua 2026 dengan tetap mencermati perkembangan harga emas dan kondisi pasar.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut