Tak Lagi Manual, Mesin Ini Pangkas Proses Cuci Kunyit UMKM Jamu Surabaya dari 35 Menit Jadi 41 Detik
Cuci Kunyit Tak Lagi Habiskan 35 Menit
Salah satu perubahan paling terasa terjadi pada proses pencucian bahan baku. Sebelum menggunakan mesin, proses mencuci sekitar 1 kilogram kunyit untuk produksi jamu membutuhkan waktu kurang lebih 35 menit.
Setelah menggunakan mesin pencuci empon-empon, waktu tersebut dapat dipangkas menjadi sekitar 41 detik.
“Penggunaan mesin pencuci ini cukup membantu mitra dalam mempersingkat waktu produksi jamu kunyit menjadi lebih efisien,” ujar Chendrasari.
Efisiensi juga terlihat pada proses pemarutan dan pemerasan kunyit. Dengan cara manual, proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 35 menit. Setelah menggunakan teknologi tepat guna, waktunya turun menjadi sekitar 2 menit 36 detik.
Dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi waktu kerja. Kapasitas produksi harian Kedai Jamu Sutinah juga meningkat.
Jika sebelumnya produksi jamu berada di kisaran 7,5 liter per hari, setelah menggunakan mesin teknologi tepat guna kapasitasnya meningkat menjadi sekitar 18 liter per hari.
Perubahan tersebut membuat teknologi tepat guna menjadi salah satu kebutuhan penting bagi mitra karena mampu mempercepat pengolahan bahan baku sekaligus membuka ruang untuk meningkatkan kapasitas usaha.
“Teknologi yang diterapkan merupakan bagian dari upaya memberikan solusi terhadap kebutuhan nyata UMKM. Melalui Program PKM ini, teknologi tepat guna yang diimplementasikan ke dalam usaha jamu Bu Sutinah memberikan dampak positif terhadap peningkatan usaha, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan, dan menyingkat waktu proses produksi,” jelas Chendrasari.
Transformasi Kedai Jamu Sutinah tidak berhenti pada peralatan produksi. Tim PKM juga memberikan perhatian terhadap persoalan yang kerap menjadi tantangan UMKM, yakni pencatatan keuangan.
Mitra diperkenalkan dengan SIAPIK, aplikasi pencatatan keuangan yang disediakan Bank Indonesia. Melalui aplikasi tersebut, transaksi usaha dapat dicatat secara digital sehingga kondisi keuangan lebih mudah dipantau.
Pendampingan dilakukan agar pencatatan tidak hanya berhenti pada transaksi harian, tetapi dapat membantu mitra menyusun informasi keuangan usaha secara lebih terstruktur.
Menurut Chendrasari, penggunaan pencatatan digital memberikan fleksibilitas bagi pelaku usaha.
“Melalui pencatatan keuangan digitalisasi SI APIK dari Bank Indonesia, pencatatan keuangan Bu Sutinah selaku mitra menjadi lebih mudah dan bisa digunakan kapan pun dan di mana pun, sehingga transaksi tercatat secara real time dan ter-update serta mitra dapat mengetahui laporan kas harian,” katanya.
Bagi Sutinah, perubahan tersebut memberikan manfaat langsung. Ia mengaku penerapan mesin produksi membuat pekerjaan lebih cepat, sementara SIAPIK membantu mengatasi kesulitan dalam pembukuan usaha.
“Melalui Program Pemberdayaan PKM ini saya merasa terbantu dalam meningkatkan usaha, baik dari segi waktu maupun kapasitas produksi. Di samping itu, saya sangat dimudahkan dalam pencatatan pembukuan keuangan dengan aplikasi SIAPIK dari Bank Indonesia,” ungkap Sutinah.
Program PKM tersebut menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak selalu harus dimulai dari investasi besar. Penerapan teknologi yang sesuai kebutuhan dan pendampingan tata kelola usaha dapat memberikan perubahan langsung pada aktivitas produksi.
Mesin pencuci empon-empon memangkas waktu pengolahan bahan baku secara signifikan. Sementara mesin pemarut dan pemeras membantu meningkatkan kapasitas produksi. Di sisi lain, digitalisasi pembukuan memberikan cara baru bagi mitra untuk memantau transaksi dan kondisi keuangan usaha.
Waktu kerja yang lebih singkat juga memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk mengalokasikan tenaga dan waktu ke aktivitas lain, termasuk pengembangan produk dan usaha.
Tim PKM Universitas Wijaya Putra pun tidak hanya menyerahkan peralatan kepada mitra. Sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan dilakukan agar teknologi yang diberikan benar-benar dapat digunakan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Dengan kombinasi teknologi tepat guna dan digitalisasi pengelolaan keuangan, Kedai Jamu Sutinah diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, memperbesar kapasitas produksi, serta membangun tata kelola usaha yang lebih tertib dan berkelanjutan.
Editor : Arif Ardliyanto