get app
inews
Aa Text
Read Next : Muktamar NU ke-35 Makin Dekat, Angka Peserta Sudah Tembus 525 Orang, Ini Kuota yang Tersedia

Jelang Muktamar, 4 Nama Menguat di Bursa Ketum PBNU

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 14:43 WIB
header img
Menjelang Muktamar ke-35 NU, bursa Ketum PBNU mengerucut pada 4 nama. (Foto : istimewa).

JOMBANG, iNewsSurabaya.id – Kontestasi menuju kursi Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Kegiatan ini akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.

Menjelang forum tertinggi NU tersebut, bursa calon Ketum PBNU disebut mulai mengerucut pada sejumlah nama yang dinilai memiliki modal dukungan, pengalaman organisasi, jaringan serta karakter kepemimpinan masing-masing.

Tim Peneliti Insantara dan intelektual muda NU, MH Wildan, menyebut terdapat empat figur yang saat ini paling menonjol dalam bursa Ketua Umum PBNU. Mereka adalah KH Yahya Cholil Staquf, KH Imam Jazuli, KH Abdul Hakim Mahfudz, dan KH Yusuf Chudlori.

Wildan sebelumnya juga pernah menyampaikan bahwa pemetaan kandidat Ketua Umum PBNU dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, antara lain popularitas, rekam jejak, serta aspirasi pengurus dan warga NU. 

“Persaingan calon Ketua Umum PBNU terkini mengerucut pada empat nama yang memiliki basis dukungan, pengalaman, jaringan dan karakter kepemimpinan berbeda,” kata Wildan, Jumat (21/8/2026).

Menurut dia, masing-masing kandidat membawa modal politik-organisasi sekaligus tantangan yang berbeda. Dinamika tersebut membuat Muktamar ke-35 tidak sekadar menjadi arena pergantian kepemimpinan, tetapi juga pertarungan gagasan mengenai arah NU memasuki abad kedua.

KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memiliki modal sebagai petahana. Pengalaman memimpin PBNU selama satu periode membuatnya memiliki pemahaman terhadap struktur organisasi serta jaringan yang telah terbentuk di tingkat pusat maupun daerah.

Gus Yahya juga dinilai membawa agenda modernisasi organisasi, termasuk penguatan tata kelola dan digitalisasi. Namun, menurut Wildan, posisi sebagai petahana sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Gus Yahya harus menghadapi evaluasi terhadap berbagai persoalan yang muncul selama periode kepemimpinannya.

“Sebagai petahana, Gus Yahya memiliki keuntungan dari sisi pengalaman dan jaringan. Namun, pada saat yang sama, seluruh capaian dan persoalan selama satu periode kepemimpinannya juga akan menjadi bahan evaluasi Muktamirin,” ujar Wildan.

Dinamika internal PBNU, tata kelola organisasi, hubungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah serta berbagai kontroversi selama periode kepemimpinan menjadi sejumlah isu yang dapat memengaruhi pertimbangan pemilik suara.

Nama KH Imam Jazuli menjadi salah satu figur yang turut diperhitungkan. Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, tersebut memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan akademik.

Intelektual muda NU ini menilai, Imam Jazuli menawarkan positioning yang berbeda dengan mengedepankan agenda transformasi NU dan pesantren.

“Imam Jazuli menawarkan gagasan transformasi, terutama dalam penguatan pesantren dan sumber daya santri. Ia juga memiliki ruang untuk membangun komunikasi lintas kelompok,” katanya.

Agenda yang dibawa Imam Jazuli antara lain penguatan persatuan NU, pengembalian marwah dan otoritas ulama, serta transformasi pesantren sebagai fondasi NU memasuki abad kedua. Kikin Bawa Simbol Tebuireng

Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin memiliki modal kultural yang kuat. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu merupakan cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari. Posisi tersebut membuat Gus Kikin membawa simbol kesinambungan tradisi pesantren dan sejarah NU. 

“Gus Kikin memiliki modal kultural yang kuat karena berasal dari Tebuireng dan memiliki hubungan langsung dengan sejarah pendirian NU,” ujar Wildan.

Gus Kikin juga disebut membawa gagasan mengenai penguatan kembali fondasi organisasi, termasuk pentingnya Qanun Asasi KH Hasyim Asy'ari sebagai rujukan fundamental dalam kehidupan NU.

Figur keempat yang disebut Wildan adalah KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang. Gus Yusuf memiliki pengalaman panjang di organisasi dan politik. 

Ia pernah memimpin PKB Jawa Tengah sebelum mengundurkan diri pada awal 2026. Pengalaman tersebut menjadi modal sekaligus tantangan bagi Gus Yusuf dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.

“Gus Yusuf menawarkan gagasan An-Nahdlah Ats-Tsaniyah atau Kebangkitan Kedua NU, dengan agenda memulihkan marwah organisasi, memperkuat soliditas internal, membenahi tata kelola serta mengembangkan pendidikan pesantren dan ekonomi umat,” katanya.

Namun, latar belakang politik praktis juga membuat Gus Yusuf perlu membangun persepsi bahwa pencalonannya berorientasi pada khidmah NU dan kepentingan organisasi.

Wildan menilai pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU tidak dapat dilepaskan dari persoalan yang lebih besar, yakni arah NU memasuki abad kedua.

Menurut dia, siapapun yang terpilih akan menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Mulai dari memperkuat soliditas internal, memperbaiki tata kelola organisasi, meningkatkan kemandirian ekonomi hingga menjaga independensi NU dari kepentingan politik praktis.

“Pertarungan ini bukan sekadar empat nama. Yang lebih penting adalah gagasan mengenai model kepemimpinan NU di abad kedua dan bagaimana organisasi ini dapat kembali solid,” ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut