Rumah Rp1,3 Miliar Mulai Diburu di Jatim, Bukan Sekadar Hunian, Ini Alasan Sesungguhnya
GRESIK, iNewsSurabaya.id – Pasar properti Jawa Timur mulai menunjukkan perubahan pola minat konsumen. Rumah dengan harga sekitar Rp1 miliaran tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat tinggal, tetapi mulai dicari karena bisa menunjang aktivitas ekonomi keluarga.
Tren tersebut terlihat dari berkembangnya minat terhadap hunian di kawasan Surabaya dan Gresik, termasuk rumah yang memiliki fungsi tambahan sebagai ruang usaha. Salah satu gambaran tren itu muncul dalam kegiatan Kids Dash 3.0 yang digelar CitraLand Driyorejo CBD.
Ajang lari anak tersebut diikuti sekitar 250 peserta berusia 4–12 tahun dengan kategori Race dan Fun Run. Kegiatan juga diisi Costume Competition. Di tengah kegiatan tersebut, diperkenalkan tipe hunian Evander yang menggabungkan fungsi rumah dan toko dalam satu bangunan.
Rumah tipe 63/74 dua lantai tersebut memiliki dua kamar tidur serta satu ruang toko. Hunian itu ditawarkan dengan harga sekitar Rp1,3 miliar.
General Manager CitraLand Driyorejo CBD, Florentia Tisila, mengatakan munculnya konsep rumah sekaligus ruang usaha tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
“Evander kami hadirkan sebagai jawaban bagi keluarga yang ingin memiliki hunian sekaligus ruang untuk membangun usaha. Dengan konsep rumah dan toko dalam satu properti, kami ingin memberikan nilai lebih bagi pemilik, terutama dengan dukungan captive market di sekitar kawasan,” ujar Florentia Tisila.
Menurut Florentia, kecenderungan konsumen saat ini tidak semata-mata melihat ukuran rumah atau fasilitas hunian. Fungsi properti dalam mendukung kegiatan keluarga dan ekonomi juga menjadi pertimbangan yang semakin diperhatikan.
Rumah dengan ruang usaha memungkinkan pemilik menjalankan aktivitas bisnis tanpa harus memisahkan lokasi tempat tinggal dan tempat mencari penghasilan. Pola seperti ini dinilai relevan bagi keluarga yang mengembangkan usaha dari skala rumahan.
Kawasan hunian di Surabaya dan Gresik juga berkembang seiring bertambahnya aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap properti dengan fungsi ganda ikut mendapatkan perhatian.
Di sekitar kawasan Driyorejo, terdapat kawasan permukiman dengan jumlah penduduk yang besar. Salah satunya Perumnas yang dihuni sekitar 16.000 penduduk. Keberadaan populasi tersebut menjadi bagian dari perubahan karakter kawasan yang tidak hanya berkembang sebagai tempat tinggal, tetapi juga memiliki aktivitas perdagangan dan jasa.
Florentia menilai perkembangan kawasan turut memengaruhi cara masyarakat mempertimbangkan pembelian rumah.
“Sekarang masyarakat semakin mempertimbangkan fungsi properti dalam jangka panjang. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga bisa menjadi bagian dari aktivitas ekonomi keluarga apabila lokasinya mendukung,” katanya.
Fenomena rumah dengan fungsi hunian dan usaha tersebut menunjukkan bahwa pasar properti kelas Rp1 miliaran mulai memiliki karakter konsumen yang lebih pragmatis. Pembeli mempertimbangkan bagaimana sebuah properti dapat digunakan secara maksimal, termasuk untuk menunjang pekerjaan atau usaha keluarga.
Di sisi lain, pertumbuhan kawasan komersial di sekitar permukiman turut menciptakan kebutuhan terhadap bangunan yang fleksibel. Rumah yang memiliki ruang usaha dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menggabungkan kebutuhan tempat tinggal dengan aktivitas ekonomi tanpa harus menyewa lokasi terpisah.
Tren ini sekaligus memperlihatkan bahwa pertimbangan membeli rumah semakin luas. Selain harga dan lokasi, konsumen mulai melihat potensi pemanfaatan ruang, aksesibilitas, serta kedekatan dengan pusat aktivitas masyarakat sebagai bagian dari keputusan membeli properti.
Dengan harga rumah yang berada di kisaran Rp1,3 miliar, perkembangan minat terhadap hunian multifungsi menjadi salah satu indikator menarik dalam membaca arah pasar properti Jawa Timur. Konsumen tidak hanya mencari rumah untuk ditempati, tetapi juga mulai memperhitungkan nilai guna properti terhadap kebutuhan keluarga dalam jangka panjang.
Editor : Arif Ardliyanto