get app
inews
Aa Text
Read Next : Bangun PLTS Atap Terbesar, Coca-Cola Europacific Partners Indonesia Transisi ke Energi Hijau

Bukan Hanya Hemat Listrik, Dua Pabrik di Lamongan Ini Pangkas 1.772 Ton Emisi Karbon

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 11:19 WIB
header img
Dua pabrik di Lamongan mulai menggunakan PLTS atap berkapasitas 1.605,8 kWp. Energi surya ini diproyeksikan memangkas emisi karbon 1.772,6 ton per tahun. Foto iNewsSurabaya.id/ist

LAMONGAN, iNewsSurabaya.id – Perusahaan manufaktur mulai mencari cara untuk menekan penggunaan energi konvensional di tengah tuntutan industri yang semakin mengarah pada proses produksi berkelanjutan. Salah satunya dilakukan dua pabrik di Lamongan, Jawa Timur, yang kini memanfaatkan energi matahari untuk memenuhi kebutuhan listriknya.

PT Cahaya Bintang Olympic (CBO) dan PT Cahaya Bintang Plastindo (CBP), bagian dari PT Graha Multi Bintang (GMB Group), memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dengan kapasitas total mencapai 1.605,8 kWp.

PLTS tersebut terpasang di fasilitas manufaktur GMB Group yang berada di wilayah Gajah, Rejosari, Kecamatan Deket, Lamongan.

Pemanfaatan energi surya ini menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas produksi. Peresmian fasilitas tersebut mengangkat tema “Empowering Industries With Clean Energy”.

Pembangunan PLTS dilakukan selama sekitar lima bulan, mulai 15 Desember 2025 hingga 24 April 2026. Berdasarkan perhitungan perusahaan, sistem tersebut diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon hingga 1.772,6 ton CO2 per tahun.

Angka itu disebut setara dengan kemampuan penyerapan karbon sekitar 71.048 pohon.

PLTS Penuhi 30 Persen Kebutuhan Listrik Pabrik

Direktur Marketing GMB Group, Reza Ardiananda, mengatakan keputusan menggunakan energi surya tidak hanya berkaitan dengan strategi efisiensi perusahaan. Menurut dia, langkah tersebut juga berkaitan dengan tanggung jawab industri terhadap lingkungan.

“Sebagai perusahaan yang memproduksi barang-barang yang dipakai banyak masyarakat Indonesia, ini menjadi momentum penting bagi kami. Kami ingin konsumen merasa bahwa produk yang mereka beli juga dibuat dengan energi yang ramah lingkungan,” ujar Reza.

Untuk tahap awal, energi yang dihasilkan PLTS mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan listrik di dua pabrik tersebut.

Sementara itu, sekitar 70 persen kebutuhan listrik masih dipenuhi melalui jaringan PLN.

Sistem kelistrikan yang diterapkan tidak membuat pabrik sepenuhnya bergantung pada produksi listrik dari panel surya. PLTS tetap terhubung dengan jaringan PLN sehingga kegiatan produksi dapat berjalan ketika intensitas matahari berkurang.

“Ketika terjadi mendung, hujan, dan sebagainya, PLN akan langsung mengisi. Jadi produktivitas pabrik sendiri tidak akan berhenti jika terjadi pengurangan energi listrik dari PLTS,” katanya.

Kapasitas PLTS Masih Bisa Ditambah

GMB Group juga melihat masih ada ruang untuk meningkatkan pemanfaatan energi surya di fasilitas produksinya di Lamongan.

Dengan mempertimbangkan kapasitas atap yang tersedia, penggunaan PLTS diperkirakan dapat ditingkatkan hingga sekitar 50-60 persen dari total kebutuhan listrik pabrik.

Namun, perusahaan masih akan melihat hasil penggunaan sistem yang telah berjalan sebelum menentukan langkah berikutnya.

Reza menyebut evaluasi akan dilakukan dalam satu hingga dua bulan untuk mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas PLTS.

“Kalau dari hasil evaluasi selama satu sampai dua bulan ini terlihat efisiensi dan efektivitas yang tinggi, tentu tidak menutup kemungkinan kami akan memasangnya lebih banyak lagi dan menggunakan energi dari PLTS ini,” jelasnya.

Peluang tersebut cukup besar karena GMB Group memiliki jaringan fasilitas produksi dan distribusi di berbagai wilayah Indonesia.

Perusahaan tercatat memiliki sekitar 30 pabrik dan lebih dari 40 cabang.

“Pabrik kami bukan cuma di Lamongan, tetapi di seluruh Indonesia. Tentunya jika kerja sama ini efektif, terbuka sekali untuk pabrik-pabrik kami yang lain menggunakan PLTS,” ujarnya.

Investasi PLTS Capai Rp16 Miliar

Direktur Operasional dan Pengembangan Bisnis PT Agra Surya Energy, Arya Pradipta, mengatakan pembangunan PLTS di fasilitas GMB Group menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan energi bersih di sektor industri.

PLTS berkapasitas 1.605,8 kWp tersebut diperkirakan mampu mengurangi penggunaan listrik konvensional sekaligus memangkas emisi karbon sekitar 1.700 ton setiap tahun.

“Dengan adanya PLTS atap ini, harapannya mampu mengurangi emisi karbon dan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ini merupakan salah satu bentuk upaya pelaku bisnis dalam mendukung pemerintah mencapai target net zero emission Indonesia pada 2060,” kata Arya.

Dari sisi investasi, pembangunan PLTS yang digunakan di dua fasilitas GMB Group di Lamongan tersebut membutuhkan dana sekitar Rp16 miliar.

Untuk saat ini, energi surya masih menjadi bagian dari kombinasi pasokan listrik pabrik. Komposisinya sekitar 30 persen dari PLTS dan 70 persen dari PLN.

Potensi peningkatan pemanfaatan energi matahari masih terbuka setelah evaluasi terhadap kinerja sistem dilakukan.

Tuntutan Industri Hijau Makin Kuat

Penggunaan energi terbarukan juga dinilai semakin relevan bagi industri yang menyasar pasar internasional. Persyaratan keberlanjutan mulai menjadi perhatian dalam rantai produksi sejumlah pasar ekspor.

Reza mengatakan kondisi tersebut membuat perusahaan perlu menyesuaikan proses produksi dengan tuntutan industri hijau.

“Pasar ekspor memang sudah memiliki ketentuan bahwa dalam proses produksi atau sebuah pabrik harus ada energi yang berkelanjutan. Untuk pasar lokal pun sekarang mulai seperti itu. Produk dan pabrik diharapkan dapat memberikan kontribusi yang tinggi terhadap green infrastructure,” katanya.

Bagi perusahaan, penggunaan energi terbarukan bukan hanya berkaitan dengan pengurangan emisi. Ada pula nilai tambah yang muncul dari proses produksi yang lebih memperhatikan aspek lingkungan.

Konsumen, menurut Reza, kini mulai melihat bagaimana sebuah produk dibuat, termasuk sumber energi yang digunakan dalam proses produksinya.

“Harapannya konsumen merasa lebih nyaman karena produk-produk yang mereka beli dari CBO dan CBP sudah diproduksi dengan energi yang berkelanjutan. Ini memberikan rasa bahwa produk tersebut tidak merugikan lingkungan,” ujarnya.

PT Cahaya Bintang Olympic sendiri merupakan perusahaan manufaktur furniture berbahan kayu, dengan sejumlah merek seperti Albatros dan Olympic Furniture. Sementara PT Cahaya Bintang Plastindo memproduksi perabot serta perlengkapan rumah tangga berbahan plastik melalui merek Olymplast dan Olymware.

Keduanya berada di bawah GMB Group yang menaungi sejumlah unit usaha manufaktur.

Pemasangan PLTS di Lamongan menjadi langkah awal perusahaan dalam memperluas penerapan konsep green industry. Jika hasil evaluasi menunjukkan efisiensi yang sesuai harapan, penggunaan energi surya berpeluang diperluas ke fasilitas produksi GMB Group lainnya.

Dengan begitu, energi surya tidak hanya diarahkan untuk menekan emisi karbon, tetapi juga menjadi bagian dari strategi industri dalam mengendalikan biaya energi dan menjaga daya saing di tengah tuntutan produksi yang semakin berkelanjutan.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut