Gen Z Jadi Sorotan, Guru Besar di Surabaya Ini Bongkar Cara Membaca Minat di Ruang Digital
SURABAYA, iNewsSurabayaid – Satu fenomena yang sama ternyata tidak selalu dimaknai dengan cara yang sama. Di ruang digital, perbedaan pengalaman, latar belakang, hingga sudut pandang seseorang dapat memunculkan tafsir yang berbeda terhadap sebuah isu. Fenomena tersebut menjadi perhatian Prof. Drs. Gatut Priyowidodo, M.Si., Ph.D., Guru Besar Ilmu Komunikasi yang baru dikukuhkan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Gatut memperkenalkan pendekatan metodologis yang disebut phenomenography digital. Pendekatan ini ditawarkan untuk memahami beragam pengalaman seseorang ketika berhadapan dengan suatu fenomena di ruang digital, terutama di kalangan Generasi Z.
Gagasan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah bertajuk “Phenomenography Digital: Pendekatan Metodologis untuk Memahami Variasi Pengalaman dalam Ruang Digital.”
Menurut Prof. Gatut, inti dari pendekatan tersebut adalah melihat bagaimana orang yang menghadapi fenomena yang sama dapat memiliki pengalaman dan pemaknaan yang berbeda.
“Intinya bahwa seseorang memiliki variasi pengalaman ketika membaca suatu fenomena. Fenomena bisa saja dipahami secara beragam berdasarkan pengalaman,” ujar Prof. Gatut dalam orasi ilmiahnya.
Phenomenography digital dikembangkan dari pendekatan phenomenography yang sebelumnya digunakan untuk mengidentifikasi variasi pengalaman seseorang terhadap suatu objek atau fenomena.
Perbedaannya terletak pada ruang penelitian. Jika phenomenography klasik lebih banyak dilakukan melalui penelitian lapangan secara langsung, pendekatan digital membawa kajian tersebut ke ruang digital.
Perubahan ini dinilai relevan dengan kehidupan masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi. Interaksi, pencarian informasi, hingga pembentukan pandangan terhadap sebuah isu kini banyak berlangsung melalui perangkat digital.

Generasi Z menjadi salah satu kelompok yang menarik untuk dikaji karena aktivitas mereka sangat dekat dengan telepon seluler dan berbagai platform digital.
Prof. Gatut memberikan contoh ketika sebuah fenomena yang muncul di internet mendapat respons berbeda dari para pengguna. Satu kelompok bisa menganggapnya sebagai penghinaan, sementara kelompok lain justru memaknainya sebagai bentuk perjuangan.
“Ini salah satu metode kalau mereka kuliah di bidang sosial sains atau komunikasi cocok. Misalnya, di Aceh ada kasus pengerusakan simbol garuda atau penginjakan bendera merah putih, bisa dilihat itu bagaimana reaksi yang muncul di ruang digital apakah ada yang pro atau kontra. Pengalaman-pengalaman mereka bisa kita jadikan sumber atau data untuk penelitian kita,” katanya.
Menurut dia, dari satu fenomena yang sama, seseorang bisa memberikan penilaian yang berbeda.
“Dari satu fenomena yang sama orang bisa menilai sebagai sebuah penghinaan tapi yang lain bisa menilai itu bukan penghinaan tetapi perjuangan,” lanjut Prof. Gatut.
Dengan demikian, komentar, respons, maupun pengalaman pengguna di ruang digital dapat menjadi sumber data untuk mengkaji bagaimana suatu fenomena dipahami oleh kelompok atau individu yang berbeda.
Prof. Gatut menegaskan phenomenography digital memiliki fokus yang berbeda dengan etnografi maupun etnografi virtual.
Etnografi lebih banyak digunakan untuk memahami pengalaman, kebiasaan, serta budaya sebuah kelompok. Sementara phenomenography berfokus pada variasi pengalaman seseorang ketika menghadapi suatu fenomena.
Dalam konteks digital, variasi pengalaman tersebut kemudian ditelusuri melalui aktivitas dan data yang tersedia di ruang digital.
Prof. Gatut menyebut aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari pendekatan tersebut telah disusun dalam orasi ilmiahnya. Meski demikian, metode tersebut masih membutuhkan pengembangan melalui penelitian berikutnya.
Usai pengukuhan, Prof. Gatut menjelaskan bahwa phenomenography digital juga berpotensi digunakan untuk melihat kecenderungan dan minat Generasi Z.
Topik yang dipilih dan diikuti seseorang di ruang digital dapat menjadi petunjuk awal mengenai ketertarikannya. Bahan penelitian pun tidak terbatas pada isu sosial atau pemberitaan.
Budaya populer seperti drama China dan drama Thailand juga dapat menjadi objek kajian untuk melihat kecenderungan tertentu di kalangan Gen Z.
“Bisa mendeteksi minat Gen Z suka apa. Jadi ketika dia memilih topik apa itu sebetulnya sudah memiliki kecenderungan, oh dia suka berita ini,” katanya.
Kedekatan Gen Z dengan telepon seluler, menurut Prof. Gatut, juga tidak harus dipandang semata sebagai persoalan. Perangkat tersebut justru dapat diarahkan untuk mendukung aktivitas yang lebih produktif, termasuk mengakses informasi dari media digital yang kredibel.
Dalam orasinya, Prof. Gatut juga menyoroti perubahan paradigma pengetahuan di tengah perkembangan teknologi.
Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya memiliki knowledge atau pengetahuan. Kemampuan adaptability atau beradaptasi dengan perubahan juga menjadi semakin penting.
Perkembangan teknologi yang berlangsung cepat membuat pengetahuan tertentu berpotensi menjadi usang. Karena itu, kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan.
Prof. Gatut kemudian mengaitkan perkembangan tersebut dengan pemikiran Alan Turing tentang bagaimana proses berpikir logis dapat direduksi menjadi prosedur, dikelola menjadi algoritma, dan selanjutnya dijalankan oleh mesin.
Perkembangan teknologi tersebut memperlihatkan bahwa manusia berada dalam lingkungan yang terus bergerak. Kemampuan mengikuti perubahan dan beradaptasi menjadi bagian penting untuk menghadapi kondisi tersebut.
Berbeda dengan sejumlah orasi ilmiah guru besar yang banyak memaparkan hasil penelitian, Prof. Gatut mengatakan momentum pengukuhan dirinya sengaja digunakan untuk menawarkan gagasan mengenai metode penelitian baru. Metode tersebut, yakni phenomenography digital, masih berada dalam tahap pengembangan.
“Memang sengaja tidak, walaupun saya punya riset. Tadi saya menawarkan satu metode baru dalam metode riset penelitian yakni phenomenography digital,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa metode tersebut belum diajarkan kepada mahasiswa. Kerangka dasarnya telah disusun, tetapi penerapan dan pengujiannya melalui berbagai penelitian masih perlu dilakukan.
Gagasan tersebut berangkat dari pengalaman Prof. Gatut ketika melakukan penelitian phenomenography saat menempuh pendidikan doktoral di Malaysia.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pijakan untuk mengembangkan kajian mengenai variasi pengalaman manusia ke dalam konteks kehidupan digital.
Melalui phenomenography digital, ruang digital tidak hanya dipandang sebagai tempat bertukar informasi atau berinteraksi, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan beragam pengalaman dan cara manusia memaknai sebuah fenomena.
Penulis: Nikmatul Karomah, Mahasiswa Magang Unesa
Editor : Arif Ardliyanto