get app
inews
Aa Text
Read Next : Saat Akses Teknologi Tertutup, Rekayasa Chip Mencari Jalannya Sendiri

Sisi Gelap Transformasi Digital: Love Scamming dan Manipulasi Kepercayaan

Jum'at, 09 Januari 2026 | 08:10 WIB
header img
Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Foto Surabaya.iNews.id/ist

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Kita hidup di zaman ketika perkenalan bisa dimulai dari satu pesan singkat. Tidak perlu tatap muka, tidak perlu saling mengenal latar belakang secara utuh. Cukup foto profil yang meyakinkan, sapaan hangat, dan percakapan yang terasa tulus. Di ruang digital, kepercayaan bisa tumbuh jauh lebih cepat daripada kewaspadaan.

Kasus-kasus yang belakangan mencuat ke publik, termasuk pengungkapan sindikat di Sleman, Jawa Tengah, memperlihatkan bahwa penipuan berkedok hubungan emosional bukan lagi cerita pinggiran. Ia telah berubah menjadi fenomena serius yang menyentuh sisi paling manusiawi: kebutuhan untuk didengar, diperhatikan, dan dicintai.

Love scamming jarang dimulai dengan permintaan uang. Justru sebaliknya, ia diawali dengan hal-hal yang tampak wajar. Perkenalan ringan, obrolan rutin, perhatian personal, hingga rasa nyaman yang tumbuh perlahan. Proses ini sering berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sehingga korban tidak pernah merasa sedang “ditipu”.

Masalahnya, ketika relasi itu dibangun di atas identitas digital, kebenaran menjadi sesuatu yang mudah direkayasa. Foto bisa diambil dari mana saja, cerita hidup bisa disusun sedemikian rupa, dan emosi korban diarahkan secara halus tanpa disadari. Ketika kepercayaan sudah terlanjur utuh, logika sering kali tertinggal jauh di belakang perasaan.

Ruang digital memberi kebebasan luar biasa dalam membangun identitas. Di satu sisi, ini memperluas kesempatan berinteraksi. Namun di sisi lain, lemahnya verifikasi dan pengawasan membuat identitas palsu dapat hidup subur tanpa hambatan berarti.

Teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru bisa berubah menjadi alat manipulasi kepercayaan. Tanpa sistem pengamanan yang kuat, pengguna kerap dipaksa mengandalkan intuisi pribadi untuk menilai keaslian seseorang—sebuah beban yang terlalu besar di tengah derasnya arus interaksi digital.

Social Engineering: Ketika Psikologi Dikalahkan Sistem

Love scamming pada dasarnya adalah praktik social engineering yang memanfaatkan celah psikologis manusia. Media sosial, aplikasi pesan instan, hingga platform kencan menyediakan ruang interaksi yang luas, tetapi belum sepenuhnya dibekali mekanisme perlindungan yang memadai.

Algoritma yang mendorong keterlibatan tinggi sering kali lebih fokus pada durasi interaksi ketimbang keamanan pengguna. Dalam situasi ini, manipulasi emosional bukan hanya mungkin terjadi, tetapi juga difasilitasi oleh sistem yang kurang seimbang antara pertumbuhan dan perlindungan.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut