get app
inews
Aa Text
Read Next : Dari Kurban Fisik ke Kurban Digital, Refleksi Makna Idul Adha dalam Dunia Teknologi

Saat Akses Teknologi Tertutup, Rekayasa Chip Mencari Jalannya Sendiri

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:03 WIB
header img
Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Foto Surabaya.iNews.id/ist

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Di balik hiruk-pikuk persaingan teknologi global, ada satu cerita yang jarang disorot secara mendalam: bagaimana keterbatasan justru melahirkan keberanian untuk memahami teknologi dari akarnya. Isu tentang upaya para insinyur China mengembangkan mesin pembuat chip canggih secara mandiri bukan sekadar kabar teknis, melainkan potret nyata bagaimana inovasi sering kali lahir dari kondisi yang tidak ideal.

Selama ini, dunia terbiasa melihat kemajuan teknologi sebagai hasil dari akses bebas terhadap mesin tercanggih dan modal besar. Namun realitasnya tidak selalu demikian. Ketika akses terhadap teknologi inti dibatasi, pilihan yang tersisa hanyalah satu: membangun sendiri dari nol, dengan segala risiko dan ketidakpastiannya.

Mesin Chip: Jantung Sunyi Teknologi Modern

Chip semikonduktor mungkin berukuran sangat kecil, tetapi perannya begitu besar. Ia menjadi otak dari ponsel pintar, pusat data, kendaraan otonom, hingga kecerdasan buatan. Untuk mencetak chip berteknologi tinggi, industri global selama ini mengandalkan mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV), sebuah perangkat dengan tingkat presisi nyaris sempurna.

Mesin ini bekerja dalam dunia yang hampir steril dari getaran, dengan kontrol suhu yang ekstrem dan ketelitian hingga skala yang sulit dibayangkan manusia awam. Tak heran, EUV menjadi simbol puncak teknologi manufaktur chip—mahal, kompleks, dan tidak mudah diakses oleh siapa pun.

Ketika satu teknologi menjadi penentu utama kemajuan, ketergantungan pun tak terelakkan. Dalam perspektif rekayasa, kondisi ini berbahaya karena menciptakan satu titik rapuh dalam ekosistem teknologi global.

Ketika akses terhadap teknologi kunci dibatasi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri, tetapi juga oleh arah inovasi itu sendiri. Ekosistem yang terlalu bergantung pada satu solusi akan kehilangan fleksibilitasnya. Inilah titik di mana keterbatasan mulai memaksa manusia berpikir ulang: apakah benar tidak ada jalan lain?

Upaya mengembangkan mesin pembuat chip secara mandiri menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu tentang menyalin teknologi yang sudah ada. Tantangan terbesarnya justru terletak pada memahami ulang prinsip dasar—fisika cahaya, karakter material, hingga sistem kontrol presisi—yang selama ini tersembunyi di balik mesin siap pakai.

Proses ini tentu tidak instan. Kegagalan teknis, keterlambatan, dan hasil yang belum optimal adalah bagian dari perjalanan. Namun di sanalah nilai terpentingnya: membangun pengetahuan, bukan sekadar produk.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut