Sisi Gelap Transformasi Digital: Love Scamming dan Manipulasi Kepercayaan
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Kita hidup di zaman ketika perkenalan bisa dimulai dari satu pesan singkat. Tidak perlu tatap muka, tidak perlu saling mengenal latar belakang secara utuh. Cukup foto profil yang meyakinkan, sapaan hangat, dan percakapan yang terasa tulus. Di ruang digital, kepercayaan bisa tumbuh jauh lebih cepat daripada kewaspadaan.
Kasus-kasus yang belakangan mencuat ke publik, termasuk pengungkapan sindikat di Sleman, Jawa Tengah, memperlihatkan bahwa penipuan berkedok hubungan emosional bukan lagi cerita pinggiran. Ia telah berubah menjadi fenomena serius yang menyentuh sisi paling manusiawi: kebutuhan untuk didengar, diperhatikan, dan dicintai.
Love scamming jarang dimulai dengan permintaan uang. Justru sebaliknya, ia diawali dengan hal-hal yang tampak wajar. Perkenalan ringan, obrolan rutin, perhatian personal, hingga rasa nyaman yang tumbuh perlahan. Proses ini sering berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sehingga korban tidak pernah merasa sedang “ditipu”.
Masalahnya, ketika relasi itu dibangun di atas identitas digital, kebenaran menjadi sesuatu yang mudah direkayasa. Foto bisa diambil dari mana saja, cerita hidup bisa disusun sedemikian rupa, dan emosi korban diarahkan secara halus tanpa disadari. Ketika kepercayaan sudah terlanjur utuh, logika sering kali tertinggal jauh di belakang perasaan.
Ruang digital memberi kebebasan luar biasa dalam membangun identitas. Di satu sisi, ini memperluas kesempatan berinteraksi. Namun di sisi lain, lemahnya verifikasi dan pengawasan membuat identitas palsu dapat hidup subur tanpa hambatan berarti.
Teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru bisa berubah menjadi alat manipulasi kepercayaan. Tanpa sistem pengamanan yang kuat, pengguna kerap dipaksa mengandalkan intuisi pribadi untuk menilai keaslian seseorang—sebuah beban yang terlalu besar di tengah derasnya arus interaksi digital.
Social Engineering: Ketika Psikologi Dikalahkan Sistem
Love scamming pada dasarnya adalah praktik social engineering yang memanfaatkan celah psikologis manusia. Media sosial, aplikasi pesan instan, hingga platform kencan menyediakan ruang interaksi yang luas, tetapi belum sepenuhnya dibekali mekanisme perlindungan yang memadai.
Algoritma yang mendorong keterlibatan tinggi sering kali lebih fokus pada durasi interaksi ketimbang keamanan pengguna. Dalam situasi ini, manipulasi emosional bukan hanya mungkin terjadi, tetapi juga difasilitasi oleh sistem yang kurang seimbang antara pertumbuhan dan perlindungan.
Kejahatan Digital yang Terorganisasi
Yang patut menjadi perhatian serius, love scamming kini tidak lagi bersifat sporadis. Ia telah berevolusi menyerupai industri kejahatan siber. Ada pembagian peran, penggunaan banyak akun dan perangkat, serta strategi penargetan korban yang disesuaikan dengan karakter dan latar belakang tertentu.
Teknologi tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan infrastruktur utama kejahatan itu sendiri. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan love scamming tidak bisa dipandang sebagai kesalahan individu semata, melainkan sebagai kegagalan kolektif dalam mengelola ruang digital.
Menyikapi fenomena ini, pendekatan hukum semata jelas tidak cukup. Platform digital memiliki tanggung jawab besar untuk menempatkan keamanan, verifikasi identitas, transparansi algoritma, dan etika desain sistem sebagai fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.
Inovasi yang melaju tanpa pengawasan berisiko menciptakan dampak sosial yang luas. Tata kelola teknologi yang baik bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi juga keberanian untuk melindungi pengguna dari sisi gelap transformasi digital.
Di sisi lain, literasi digital masyarakat perlu dimaknai lebih dari sekadar kemampuan menggunakan aplikasi. Literasi sejati adalah kesadaran bahwa tidak semua relasi di ruang digital dibangun dengan niat tulus, serta pemahaman akan pentingnya menjaga data pribadi dan batas emosional.
Love scamming menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kematangan sosial. Tanpa keamanan, etika, dan tanggung jawab bersama, transformasi digital berpotensi berubah dari alat kemajuan menjadi ladang kejahatan yang memanfaatkan sisi paling rapuh manusia.
Penulis: Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Editor : Arif Ardliyanto