Sisi Gelap Transformasi Digital: Love Scamming dan Manipulasi Kepercayaan
Kejahatan Digital yang Terorganisasi
Yang patut menjadi perhatian serius, love scamming kini tidak lagi bersifat sporadis. Ia telah berevolusi menyerupai industri kejahatan siber. Ada pembagian peran, penggunaan banyak akun dan perangkat, serta strategi penargetan korban yang disesuaikan dengan karakter dan latar belakang tertentu.
Teknologi tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan infrastruktur utama kejahatan itu sendiri. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan love scamming tidak bisa dipandang sebagai kesalahan individu semata, melainkan sebagai kegagalan kolektif dalam mengelola ruang digital.
Menyikapi fenomena ini, pendekatan hukum semata jelas tidak cukup. Platform digital memiliki tanggung jawab besar untuk menempatkan keamanan, verifikasi identitas, transparansi algoritma, dan etika desain sistem sebagai fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.
Inovasi yang melaju tanpa pengawasan berisiko menciptakan dampak sosial yang luas. Tata kelola teknologi yang baik bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi juga keberanian untuk melindungi pengguna dari sisi gelap transformasi digital.
Di sisi lain, literasi digital masyarakat perlu dimaknai lebih dari sekadar kemampuan menggunakan aplikasi. Literasi sejati adalah kesadaran bahwa tidak semua relasi di ruang digital dibangun dengan niat tulus, serta pemahaman akan pentingnya menjaga data pribadi dan batas emosional.
Love scamming menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kematangan sosial. Tanpa keamanan, etika, dan tanggung jawab bersama, transformasi digital berpotensi berubah dari alat kemajuan menjadi ladang kejahatan yang memanfaatkan sisi paling rapuh manusia.
Penulis: Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Editor : Arif Ardliyanto