Lima Jurnalis Hilang Kontak di Gunung Anak Krakatau, IJTI Desak SOP Keselamatan Diperketat
Keselamatan Jadi Prioritas Peliputan
Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bagi perusahaan media dan jurnalis mengenai pentingnya mitigasi risiko sebelum menjalankan tugas di lapangan.
IJTI menilai wilayah bencana, termasuk kawasan gunung api aktif seperti Gunung Anak Krakatau, memiliki kondisi alam yang dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, setiap penugasan jurnalistik di medan ekstrem membutuhkan persiapan keselamatan yang matang.
Menurut IJTI, dinamika aktivitas vulkanik merupakan faktor alam yang memiliki tingkat risiko tinggi dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.
Atas kondisi tersebut, IJTI menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi pertimbangan utama sebelum jurnalis ditugaskan ke lokasi berbahaya.
“Tidak ada berita yang seharga dengan nyawa manusia,” tegas IJTI.
Organisasi tersebut juga mendorong perusahaan media melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) peliputan berisiko. Evaluasi tersebut dinilai perlu mencakup prosedur keselamatan, pemetaan dan mitigasi risiko, hingga peningkatan pemahaman mengenai keselamatan atau safety awareness bagi jurnalis.
Pembekalan tersebut dianggap penting sebelum wartawan diterjunkan ke kawasan bencana maupun lokasi dengan kondisi medan ekstrem.
Jurnalisme Tetap Harus Berpihak pada Kemanusiaan
IJTI menilai tugas jurnalistik bukan sekadar mengejar informasi tercepat atau menghasilkan berita dari lokasi kejadian. Keselamatan pekerja media juga merupakan bagian penting dari praktik jurnalistik yang bertanggung jawab.
Dalam situasi seperti ini, dukungan kepada keluarga para jurnalis dan awak kapal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perhatian IJTI.
“Jurnalis yang pulang berkumpul bersama keluarganya dengan selamat adalah tujuan tertinggi,” tulis IJTI.
IJTI berharap seluruh unsur yang terlibat terus mengoptimalkan pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak tersebut. Organisasi jurnalis itu juga berharap keluarga para jurnalis dan awak kapal diberi kekuatan sembari menunggu perkembangan terbaru operasi SAR di perairan Gunung Anak Krakatau.
Editor: Arif Ardliyanto