Peluang Bisnis di Surabaya Makin Beragam, Calon Pengusaha Didorong Berani Mulai dari Kecil
SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Memulai usaha tidak selalu harus diawali dengan modal besar. Kemampuan membaca peluang, memahami pasar, membangun kepercayaan pelanggan, dan konsisten menjalankan usaha justru menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang entrepreneur.
Gambaran tersebut terlihat dalam gelaran Info Franchise & Business Concept (IFBC) Expo 2026 di Grand City Convex Surabaya, 11–13 September 2026. Pameran yang mengusung tema “Grow Beyond Boundaries” itu mempertemukan pelaku usaha dengan masyarakat yang sedang mencari peluang untuk memulai maupun mengembangkan bisnis.
Beragam model usaha diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari franchise, kemitraan, distributor, keagenan hingga sejumlah peluang bisnis dari berbagai sektor.

Pertemuan antara pemilik usaha, calon entrepreneur, investor, calon mitra, dan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam pameran tersebut. Bagi calon pengusaha, kondisi ini membuka kesempatan untuk melihat langsung bagaimana sebuah bisnis dijalankan serta tantangan yang harus dihadapi ketika masuk ke dunia usaha.
Di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis, membangun usaha tidak cukup hanya dengan memiliki produk. Pelaku usaha juga dituntut memahami karakter konsumen, menjaga hubungan dengan pelanggan, memperluas jaringan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan pasar.
Star Director Ina Cookies Sidoarjo, Irmawati Subagio, mengatakan kemampuan membaca peluang menjadi salah satu modal penting bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia entrepreneurship.
“Menjadi entrepreneur bukan hanya tentang seberapa besar modal yang kita punya. Tetapi bagaimana kita melihat peluang, berani mengambil langkah pertama, kemudian mengubah peluang tersebut menjadi bisnis yang bisa terus bertumbuh,” kata Irma.
Perjalanan Irma dalam membangun bisnis juga tidak dimulai dari skala besar. Ia mengaku telah mengenal produk Ina Cookies sejak lama dan memiliki ketertarikan terhadap produk tersebut.
Ketika bisnis keluarganya menghadapi tantangan sekitar 2020, kondisi itu justru membuatnya melihat peluang dari produk yang sudah dikenalnya.
Awalnya, Irma hanya mencoba menjual. Namun, aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi proses panjang untuk mengenali konsumen, memahami kebutuhan pasar, membangun jaringan, hingga menyusun sistem bisnis.
“Saya memulai dari sesuatu yang sederhana. Saya suka produknya, saya percaya produknya, lalu saya mencoba menjual. Dari situ saya belajar customer, belajar market, belajar networking, dan belajar konsisten,” ujarnya.
Menurut Irma, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa menjalankan bisnis bukan sekadar mengejar penjualan. Ada proses yang harus dibangun agar usaha dapat bertahan dan berkembang.
Seorang entrepreneur, lanjut dia, perlu memikirkan bagaimana memperoleh pelanggan, mempertahankan kepercayaan, menciptakan pembelian berulang, memperluas jaringan, serta membangun sistem kerja yang dapat menopang pertumbuhan bisnis.
“Produk yang bagus memang penting. Tetapi produk saja tidak cukup. Entrepreneur harus membangun customer, trust, network, membaca market, konsisten, dan terus belajar,” katanya.
Perbedaan antara berjualan dan membangun bisnis menjadi salah satu hal yang ditekankan Irma dalam sesi “From Journey to Star — Bertumbuh Bersama, Bersinar Bersama Ina Cookies” di IFBC Expo 2026.
Menurutnya, seseorang yang ingin menjadi entrepreneur harus mulai melihat usaha dalam jangka panjang. Penjualan memang menjadi bagian penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran perkembangan bisnis.
Pengusaha juga perlu membangun basis pelanggan, reputasi, jaringan, serta sistem yang dapat membuat bisnis tetap berjalan ketika menghadapi perubahan.
Pandangan tersebut turut dipengaruhi buku The 21 Irrefutable Laws of Leadership karya John C. Maxwell yang pernah dibacanya.
Salah satu prinsip yang dianggap relevan dengan perjalanan bisnisnya adalah “Leadership develops daily, not in a day”.
Bagi Irma, prinsip tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepemimpinan. Dunia usaha juga membutuhkan proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari.
Pengalaman menghadapi pelanggan, menerima komplain, mengalami penolakan, mengevaluasi kesalahan, hingga membaca perubahan kebutuhan pasar menjadi bagian dari proses membentuk seorang entrepreneur.
“Yang berkembang bukan hanya omzet. Kita sebagai entrepreneur juga harus berkembang. Cara berpikir, cara mengambil keputusan, cara melayani customer, dan cara membaca peluang harus terus naik kelas,” jelasnya.
Irma menilai pengembangan bisnis juga tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama di setiap wilayah. Karakter konsumen, kebutuhan pasar, serta jaringan bisnis di setiap daerah dapat berbeda.
Karena itu, pelaku usaha perlu mengenali lingkungan bisnisnya sendiri sebelum menentukan strategi.
Dalam model kemitraan, menurut dia, mitra bukan hanya berperan sebagai pihak yang menjual produk. Mereka juga dituntut mampu membangun hubungan dengan pelanggan dan memahami potensi pasar di wilayah masing-masing.
“Kalau kita bicara kemitraan, jangan hanya berpikir bagaimana produknya laku. Pikirkan bagaimana customer kita bertambah, bagaimana jaringan kita berkembang, dan bagaimana bisnis ini bisa berjalan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Ia menambahkan, calon pengusaha tidak perlu menunggu sampai memiliki kondisi yang dianggap sempurna untuk memulai usaha.
Justru dari langkah kecil tersebut, seseorang dapat mengetahui karakter pasar, menemukan kesalahan, melakukan evaluasi, dan secara bertahap memperbaiki cara menjalankan bisnis.
“Jangan takut mulai dari kecil. Kita tidak harus tahu seluruh perjalanan untuk mengambil langkah pertama. Yang penting berani mulai, konsisten, mau belajar, dan terus memperbaiki diri,” katanya.
Kehadiran berbagai model usaha dalam IFBC Expo 2026 menunjukkan bahwa masyarakat memiliki banyak pilihan ketika ingin masuk ke dunia entrepreneurship. Namun, pilihan tersebut tetap membutuhkan pertimbangan matang sebelum dijalankan.
Bagi Irma, peluang kemitraan maupun bentuk usaha lainnya seharusnya tidak berhenti pada aktivitas distribusi dan penjualan. Pelaku usaha perlu menjadikan peluang tersebut sebagai titik awal untuk membangun bisnis secara lebih serius.
“Jangan hanya menjadi distributor. Bangunlah bisnis. Karena yang kita bangun bukan hanya penjualan hari ini, tetapi customer, jaringan, kepercayaan, sistem, dan aset untuk masa depan,” ucapnya.
Pameran IFBC Expo 2026 di Surabaya pun menjadi ruang bertemunya berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda dalam dunia usaha. Ada pemilik bisnis yang mencari pengembangan jaringan, calon mitra yang mencari peluang, hingga masyarakat yang masih mempertimbangkan langkah pertama menjadi pengusaha.
Bagi calon entrepreneur, kesempatan tersebut dapat menjadi momentum untuk belajar sebelum menentukan pilihan bisnis.
Irma berharap semakin banyak masyarakat berani memulai usaha tanpa harus merasa bahwa bisnis selalu membutuhkan langkah besar sejak awal.
“Saya percaya setiap orang punya cerita suksesnya masing-masing. Tidak harus langsung besar. Mulai dari sesuatu yang kita percaya, jalani prosesnya, terus belajar, dan tumbuh bersama,” katanya.
Pada akhirnya, membangun bisnis bukan hanya soal menemukan produk atau peluang yang tepat. Kemampuan membaca pasar, menjaga kepercayaan, membangun jaringan, dan terus belajar menjadi proses yang menentukan apakah sebuah usaha mampu bertahan dalam jangka panjang.
IFBC Expo 2026 di Surabaya menjadi salah satu gambaran bahwa peluang untuk memulai usaha semakin beragam. Tantangan berikutnya berada di tangan calon entrepreneur: memilih peluang yang sesuai, menghitung risikonya, kemudian berani mengambil langkah pertama.
Editor: Arif Ardliyanto