4 Direktur Pertamina Ternyata Alumni ITS, Ini Pesan Penting untuk Mahasiswa di Era Digital
Mahasiswa Perlu Mengenal Tantangan Energi
Roberth menilai mahasiswa tidak cukup hanya mempersiapkan kemampuan akademik. Mereka juga perlu memahami perubahan yang tengah berlangsung dalam sektor energi.
Pertamina, kata dia, tidak lagi hanya bergerak pada sektor energi fosil. Perusahaan juga mulai mengembangkan berbagai bentuk energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari tantangan bisnis energi ke depan.
“Pertamina saat ini sudah bergerak tidak saja di bisnis energi fosil, tetapi juga energi baru terbarukan. Bagaimana solar panel, bagaimana biomass, bagaimana pemanfaatan energi terbarukan itu akan menjadi tantangan ke depan,” jelasnya.
Perubahan tersebut dinilai membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis sekaligus mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Mahasiswa ITS yang memiliki latar belakang berbagai disiplin ilmu, terutama teknik dan teknologi, diharapkan dapat melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari tantangan yang harus dipersiapkan sejak bangku kuliah.
Roberth menegaskan, regenerasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor energi nasional. Generasi yang saat ini bekerja di industri energi pada akhirnya akan digantikan oleh generasi berikutnya.
“Kita harus siapkan generasi-generasi muda yang memiliki daya juang, memiliki kreativitas, tetapi juga dilengkapi pengetahuan dan keilmuan yang mumpuni,” katanya.
Menurut Roberth, penguatan kapasitas generasi muda tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ketahanan energi Indonesia.
Ketersediaan energi yang kuat menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kedaulatan sebuah negara. Karena itu, generasi muda dinilai perlu memahami posisi strategis sektor energi, termasuk tantangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi dari negara lain.
“Harapannya Indonesia menjadi negara yang berdaulat. Kunci dari negara berdaulat itu salah satunya harus berdaulat energi supaya kita tidak tergantung dengan negara lain,” ujarnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, turut menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam mengenal dunia industri sejak masih berada di perguruan tinggi.
Kegiatan PGTC tidak hanya diarahkan sebagai ruang untuk memperkenalkan kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga membuka interaksi antara mahasiswa dan lingkungan kerja di sektor energi.
Dalam kegiatan tersebut tersedia sejumlah booth yang memberikan informasi mengenai peluang pengembangan karier, termasuk kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman melalui program magang, praktik kerja lapangan, maupun internship.
Kesempatan tersebut dinilai penting karena pengalaman di dunia industri dapat menjadi bekal tambahan bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja secara penuh.
Roberth mengatakan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman tersebut tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa yang nantinya ingin bekerja di Pertamina.
“Tidak saja nanti kalau sudah lulus kemudian bekerja di Pertamina, tapi kami juga kerja sama dengan pihak kampus untuk memberikan kesempatan rekan-rekan mahasiswa melakukan magang, PKL, internship,” tuturnya.
Melalui PGTC di ITS, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengenal industri energi dari sisi peluang pekerjaan, tetapi juga memahami persoalan yang lebih luas, mulai dari ketahanan energi, perkembangan teknologi hingga transisi menuju energi baru dan terbarukan.
Pada akhirnya, kesiapan generasi muda dinilai akan menjadi salah satu penentu keberlanjutan sektor energi Indonesia di tengah perubahan kebutuhan dan perkembangan teknologi.
Editor: Arif Ardliyanto