400 Tahun Berlalu, Pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari Dibongkar: Ternyata Masih Relevan di Zaman Ini
MOJOKERTO, iNewsSurabaya.id – Empat abad setelah kelahirannya, nama Syekh Yusuf Al-Makassari kembali menjadi bahan perbincangan. Bukan sekadar karena sejarah perjuangannya melawan kolonialisme, tetapi juga karena pemikiran keislaman, jaringan keilmuan, dan nilai kemanusiaan yang diwariskannya dinilai masih relevan menghadapi persoalan kebinekaan saat ini.
Warisan tokoh yang dikenal memiliki jaringan intelektual lintas negara tersebut dibahas dalam Temu Narasi bertajuk “Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman” yang digelar Direktorat Promosi Kebudayaan di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Mojokerto.
Dalam forum tersebut, K.H. Ahmad Kholili Kholil menyoroti hubungan antara pemikiran tasawuf Syekh Yusuf dengan sikapnya terhadap penindasan. Menurutnya, perlawanan Syekh Yusuf terhadap kolonialisme tidak tepat dipahami sebatas sebagai sikap anti-orang asing.
“Bertasawuf itu adalah anti kezaliman, apa pun kezaliman itu. Bukan spesifik anti kolonial atau anti orang asing,” kata Kholili.
Ia menjelaskan, sikap tersebut justru memperlihatkan karakter Syekh Yusuf yang moderat dan terbuka. Perjuangannya tidak dibangun dari kebencian terhadap bangsa atau kelompok tertentu, melainkan dari penolakan terhadap penindasan dan despotisme.
Bagi Kholili, integritas menjadi salah satu kunci yang membuat pengaruh Syekh Yusuf mampu bertahan melampaui zaman. Ketokohannya tidak hanya menjadi bagian dari perjuangan agama, tetapi juga berkembang melalui jaringan keilmuan yang luas.
“Peninggalan Syekh Yusuf terbentang mulai dari Jerman, Mekkah, Madinah, Teheran, bahkan Princeton University di Amerika, juga di sepanjang Kepulauan Nusantara. Itu semua dicapai melalui pribadi yang berintegritas dan berprinsip,” ujarnya.
Editor: Arif Ardliyanto