Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Negeri Hilang Ditemukan di Jombang, Saluran Kuno Sepanjang 20 Meter Berhasil Diungkap
Advertisement . Scroll to see content

400 Tahun Berlalu, Pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari Dibongkar: Ternyata Masih Relevan di Zaman Ini

Kamis, 17 September 2026 | 07:43 WIB
  • author Rahmat Ilyasan
400 Tahun Berlalu, Pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari Dibongkar: Ternyata Masih Relevan di Zaman Ini
Warisan pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari kembali digali di Mojokerto, dari tasawuf, anti-kezaliman hingga peluang diplomasi kebudayaan. Foto iNewsSurabaya.id/ilyas

Syekh Yusuf lahir di Tallo, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626. Perjalanan intelektualnya kemudian membawanya ke berbagai pusat keilmuan Islam, mulai dari Aceh dan Banten hingga Mekkah, Yaman, dan Damaskus.

Di Banten, Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama, pendidik agama, sekaligus mufti. Ia juga terlibat dalam perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi kolonialisme Belanda.

Perjuangan tersebut berujung pada penangkapan dan pengasingan. Pada 1684, Syekh Yusuf dibuang ke Ceylon atau Sri Lanka sebelum kemudian dipindahkan ke Cape Town, Afrika Selatan.

Namun, pengasingan tidak menghentikan aktivitas dakwahnya. Syekh Yusuf tetap menyebarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya pada 1699.

Jejak pemikirannya kemudian berkembang jauh melampaui wilayah Nusantara. Pemerintah Indonesia menetapkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional pada 1995. Kiprahnya juga memperoleh pengakuan di Afrika Selatan.

Momentum 400 tahun kelahirannya pun dinilai menjadi kesempatan untuk kembali melihat warisan intelektual dan nilai perjuangan Syekh Yusuf secara lebih luas.

Dalam upaya menjaga warisan intelektual Syekh Yusuf, Kholili berpandangan bahwa seluruh manuskrip yang berada di luar negeri tidak harus dibawa kembali ke Indonesia.

Menurutnya, digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga keberadaan manuskrip sekaligus membuat isinya lebih mudah dipelajari.

“Kalau saya pribadi sebagai pengamat naskah, jangan, tidak perlu. Karena lebih terjaga di sana. Cukup dikaji dan dicek versi digitalnya,” katanya.

Pandangan berbeda dalam forum tersebut muncul dari Dr. Ahmad Ginanjar Sya'ban, M.Hum. Ia melihat Syekh Yusuf bukan hanya sebagai bagian dari sejarah Indonesia, tetapi juga sebagai modal untuk memperkuat diplomasi kebudayaan.

Ginanjar mencontohkan bagaimana sejumlah negara mengangkat tokoh intelektual masa lalu sebagai bagian dari identitas dan pusat kebudayaan mereka. Turki, misalnya, mengenalkan Yunus Emre dan Rumi, sementara China memiliki Confucius Institute dan India menggunakan nama Maulana Azad untuk pusat kebudayaannya.

Menurut Ginanjar, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan intelektual yang tidak kalah besar. Karya ulama Nusantara sejak berabad-abad lalu ditulis dalam bahasa Arab dan dipelajari di berbagai pusat keilmuan Islam dunia.

“Indonesia ini punya barang, punya modal, tetapi belum mengemasnya untuk menjadi tools of diplomacy kebudayaan kita,” ujarnya.

Ia menyebut Syekh Yusuf, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdus Samad Al-Palimbani hingga Nawawi Al-Bantani sebagai sederet ulama Nusantara yang memiliki warisan intelektual dan berpotensi diperkenalkan lebih luas di tingkat internasional.

Ginanjar menilai pengenalan tokoh ulama Nusantara juga perlu menyasar generasi muda. Penyampaian sejarah tidak cukup jika hanya mengandalkan manuskrip, buku akademik, tesis, disertasi, atau jurnal.

Warisan pemikiran Syekh Yusuf, kata dia, perlu diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi saat ini.

“Perlu dengan logika anak-anak muda zaman sekarang. Misalkan dibuat film, dokumenter, video pendek, infografis, komik, dan media-media yang sesuai kebutuhan zamannya,” katanya.

Menurutnya, influencer juga dapat menjadi penghubung antara kajian sejarah dan generasi muda sehingga gagasan Syekh Yusuf tidak berhenti di ruang akademik.

Salah satu pemikiran yang dinilai masih relevan untuk diaktualisasikan adalah konsep Insan Kamil, yakni proses manusia menuju kesempurnaan rohani dan kebahagiaan sejati.

Dalam perspektif tasawuf, perjalanan tersebut berkaitan dengan upaya menyucikan diri dari berbagai penyakit hati, mulai dari keserakahan, iri, dengki, kesombongan hingga kebutuhan berlebihan terhadap validasi.

“Intinya ajaran yang bagaimana menghantarkan seorang manusia pada tingkat kesempurnaan rohaninya, sehingga dia bisa mencapai kebahagiaan yang sejati, bukan kebahagiaan yang semu,” jelas Ginanjar.

Ia menambahkan, kajian mengenai Syekh Yusuf sebenarnya sudah dilakukan melalui berbagai karya akademik, termasuk buku, disertasi, tesis, jurnal dan penerjemahan. Film dokumenter tentang tokoh tersebut juga telah dibuat, meski jumlahnya masih terbatas.

Temu Narasi di Mojokerto menjadi bagian dari rangkaian promosi ketokohan Syekh Yusuf yang berlangsung di enam wilayah Indonesia selama September-Oktober 2026.

Selain Jawa Timur, kegiatan serupa dijadwalkan berlangsung di Aceh, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Rangkaian tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali warisan Syekh Yusuf, sekaligus melihat bagaimana pemikirannya dapat dibaca dalam konteks masyarakat Indonesia dan dunia masa kini.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut