Macet Parah di Ketapang Jadi Sorotan, ASDP Siapkan Dermaga 5.000 GT dan Kapal Besar
Proyek tersebut ditargetkan dapat mulai beroperasi pada Maret 2027.
“Ke depan semua dermaga secara bertahap kita tambah kapasitasnya. Sehingga semua dermaga bisa dilalui kendaraan berkapasitas berat,” kata Nana.
Kapal Besar Disiagakan
Selain membenahi fasilitas darat, ASDP juga menyiagakan kapal berkapasitas besar untuk memperkuat pelayanan penyeberangan. Dua kapal perbantuan, yakni KMP Portlink 0 dan KMP Jatra I, dipastikan tetap disiagakan hingga periode Nataru.
Kapal-kapal tersebut nantinya mendukung pelayanan di sejumlah lintasan, termasuk Tanjungwangi-Lembar dan Ketapang-Gilimanuk.
Nana menjelaskan, kepadatan kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk dalam beberapa waktu terakhir tidak disebabkan satu faktor. Sejumlah kondisi operasional terjadi secara bersamaan sehingga berpengaruh terhadap kapasitas efektif pelayanan.
Dinamika operasional pada beberapa lintasan dan fasilitas penyeberangan turut memengaruhi fleksibilitas pengaturan layanan. Selain itu, karakteristik serta volume kendaraan yang dilayani membutuhkan penyesuaian kapasitas dan distribusi muatan.
Data ASDP menunjukkan, selama periode 31 Agustus hingga 29 September 2026, sebanyak 341.826 kendaraan telah dilayani melalui lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Jumlah tersebut terdiri dari 115.469 sepeda motor, 84.489 mobil, 14.567 bus, serta 127.301 truk. Pada periode yang sama, sebanyak 823 kapal beroperasi dengan total 9.984 perjalanan.
ASDP mengakui antrean panjang memberikan dampak langsung kepada pengguna jasa, terutama pengemudi kendaraan logistik yang harus menghabiskan waktu lebih lama sebelum dapat melanjutkan perjalanan.
“Kami memahami kondisi antrean ini tidak mudah bagi pengguna jasa, khususnya para pengemudi logistik yang harus menunggu lebih lama untuk dapat melanjutkan perjalanan,” ujar Nana.
Menurut dia, ASDP terus berupaya memaksimalkan kapasitas yang tersedia agar proses penguraian antrean dapat berlangsung lebih cepat. Namun, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas dalam setiap langkah pengaturan penyeberangan.
Pemkab Banyuwangi Siapkan Jalan Alternatif
Upaya mengurai kemacetan tidak hanya dilakukan dari sisi operasional pelabuhan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung kelancaran lalu lintas kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang.
Wakil Bupati Banyuwangi H. Ir. Mujiono mengatakan, Pemkab Banyuwangi memberikan dukungan penuh terhadap upaya memperlancar arus kendaraan di kawasan Ketapang.
Beberapa langkah yang disiapkan meliputi optimalisasi jalan alternatif lingkar Ketapang, penanganan underpass perlintasan kereta api yang kerap menjadi titik persoalan bagi kendaraan berat, serta perluasan area buffer zone.
“Termasuk jembatan penghubung antara Dermaga LCM dengan Bulusan sedang kita tuntaskan. Kemudian jalan alternatif lingkar Ketapang, terutama underpass kereta api, nanti kita rencanakan akan kita turunkan untuk landasan jalannya,” jelas Mujiono.
Pemkab juga mendorong perluasan area parkir di Terminal Ketapang. Penambahan kantong parkir dinilai penting agar kendaraan yang menunggu giliran menyeberang tidak menumpuk di badan jalan.
Dengan kombinasi penambahan kapasitas dermaga, kesiapan kapal berkapasitas besar, penyediaan buffer zone serta pembenahan akses jalan, pemerintah berharap persoalan antrean kendaraan di Ketapang dapat ditekan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi persiapan menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat pada masa Natal dan Tahun Baru yang diperkirakan kembali meningkatkan arus kendaraan di jalur penyeberangan Jawa-Bali.
Editor: Arif Ardliyanto