Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Siswa SD Asal Boyolali Curi Perhatian NASA, Kini Dapat Beasiswa hingga SMA
Advertisement . Scroll to see content

Hadapi Era AI, Calon Pemimpin Diminta Kuasai Teknologi tapi Tetap Berpikir Mandiri

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:32 WIB
  • author Saipul Yudi
Hadapi Era AI, Calon Pemimpin Diminta Kuasai Teknologi tapi Tetap Berpikir Mandiri
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai. (Foto : Istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan derasnya arus informasi membuat kemampuan berpikir mandiri semakin penting bagi calon pemimpin. 

Penguasaan teknologi harus diimbangi kemampuan membaca data, melakukan telaah, memverifikasi informasi, serta mengambil keputusan secara kritis.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai saat menjadi narasumber Seminar Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara yang digelar Dindik Jatim, Sabtu (3/10/2026).

Seminar tersebut diikuti ratusan siswa, guru dan tenaga kependidikan (GTK), serta wakil kepala SMAN Taruna Angkasa Madiun. Selain Aries, hadir Direktur SDM Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Raden Yoga Raharja dan Kadister Lanud Iswahjudi Kolonel Tek Ricki Armades.

Aries mengingatkan siswa agar tidak menyerahkan sepenuhnya proses berpikir kepada teknologi AI. Menurutnya, AI seharusnya digunakan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan proses berpikir maupun pengambilan keputusan.

“Seorang pemimpin harus memiliki pemikirannya sendiri. Harus berdasarkan checking data dan telaah,” tegas Aries, Minggu (4/10/2026).

Ia mengatakan tantangan yang dihadapi generasi Z semakin kompleks. Selain perkembangan AI dan algoritma, generasi muda harus menghadapi disinformasi, polarisasi, serta tuntutan kompetensi yang semakin global.

Karena itu, menurut Aries, wawasan kebangsaan harus menjadi landasan ketika generasi muda menentukan sikap dan mengambil keputusan. “Wawasan kebangsaan bukan sekadar hafalan. Tapi cara kita memandang Indonesia sebelum mengambil keputusan,” ujarnya.

Aries menegaskan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi pijakan generasi muda dalam menghadapi perubahan dunia yang berlangsung cepat.

Ia juga mendorong tiga kemampuan kepemimpinan dibangun sejak dini, yakni kemampuan memimpin diri sendiri, memimpin orang lain, dan memimpin perubahan.

Khusus siswa sekolah taruna, Aries mendorong mereka memiliki wawasan global dengan menguasai teknologi terbaru, bahasa internasional, serta memanfaatkan AI secara bijak. Siswa juga diminta membangun jejaring dan belajar dari berbagai negara.

“Belajar dari dunia, lalu membawa manfaatnya pulang ke Indonesia,” katanya.

Menurut Aries, kepemimpinan tidak cukup dibangun melalui teori. Karakter harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, mulai dari tidak mencontek, tidak memalsukan laporan, tidak menyalahgunakan jabatan, berani mengakui kesalahan, hingga berani menyampaikan kebenaran meski tidak populer.

Ia mencontohkan sejumlah tokoh yang dapat menjadi teladan, antara lain Bung Hatta dalam hal ilmu dan prinsip, BJ Habibie dalam penguasaan teknologi, Nelson Mandela dalam kepemimpinan, serta Admiral William McRaven dalam disiplin dan ketangguhan.

“Bangsa dihormati jika masyarakatnya mampu menguasai teknologi. Dan ini dibuktikan juga diserukan BJ Habibie sebagai Bapak Teknologi,” tegasnya.

Aries juga mengingatkan siswa bahwa kebutuhan dunia kerja terus berubah. Mengacu pada Future of Jobs Report 2025, sejumlah kemampuan seperti analytical thinking, resiliensi dan fleksibilitas, kepemimpinan, creative thinking, literasi teknologi, empati, serta kemauan belajar sepanjang hayat semakin dibutuhkan.

Sementara itu, kemampuan AI dan big data menjadi salah satu kompetensi yang pertumbuhannya paling cepat dibutuhkan dunia kerja.

Untuk menghadapi perubahan tersebut, Aries mendorong siswa memperkuat 5C, yakni character, competence, courage, compassion, dan contribution.

Direktur SDM Direktorat Jenderal Potensi Ketahanan Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Raden Yoga Raharja mengatakan generasi muda merupakan salah satu pilar strategis pertahanan nasional.

Menurutnya, pertahanan negara tidak lagi hanya bertumpu pada kekuatan militer. Pertahanan juga membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, ketahanan ideologi, penguasaan teknologi, serta kemampuan inovasi.

“Pemuda adalah kekuatan strategis bangsa yang akan menentukan masa depan pertahanan negara,” ujarnya.

Yoga menyebut bonus demografi dengan lebih dari 70 juta pemuda berusia 15-30 tahun menjadi modal penting bagi pembangunan sekaligus penguatan pertahanan nasional.

Sebagai generasi digital native, pemuda memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam ketahanan siber, mengidentifikasi ancaman, dan menciptakan berbagai inovasi.

Namun, Yoga mengingatkan bentuk ancaman pertahanan kini semakin beragam dan multidimensional. Ancaman tersebut antara lain serangan siber, disinformasi, radikalisme, narkoba, krisis lingkungan, hingga ketimpangan sosial.

“Ancaman tidak lagi bersifat konvensional dan terbatas pada dimensi militer, melainkan telah berkembang menjadi ancaman multidimensional,” jelasnya.

Sementara itu, Kadister Lanud Iswahjudi Kolonel Tek Ricki Armades menekankan pentingnya membangun karakter dan kompetensi siswa sebagai bagian dari potensi dirgantara.

Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang untuk membentuk knowledge, character, discipline, leadership, dan aerospace interest.

“Siswa dapat dikembangkan menjadi generasi yang mencintai Indonesia, SDM unggul bidang teknologi, calon pemimpin, calon penerbang, engineer, teknisi, akademisi, profesional, prajurit TNI, maupun profesi lain yang berkontribusi kepada negara,” jelasnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut