Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bank Digital Makin Canggih, Prof Sri Astutik Ungkap Ancaman Tersembunyi bagi Nasabah
Advertisement . Scroll to see content

Inovasi Manajemen Jadi Kunci Daya Saing Global, FMI Soroti Transformasi Digital dan AI

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 09:50 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Inovasi Manajemen Jadi Kunci Daya Saing Global, FMI Soroti Transformasi Digital dan AI
FMI Jawa Timur XVIII 2026 menyoroti inovasi manajemen, transformasi digital, AI, dan kolaborasi riset untuk memperkuat daya saing Indonesia. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Inovasi manajemen menjadi salah satu kunci bagi Indonesia untuk menghadapi persaingan global di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Perguruan tinggi dituntut mampu menyesuaikan pengembangan ilmu manajemen dengan perubahan industri agar menghasilkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Seminar Nasional (Semnas) Forum Manajemen Indonesia (FMI) Jawa Timur XVIII 2026 yang digelar di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya. Forum ini membahas inovasi strategis dan transformasi ekosistem digital berkelanjutan untuk mendukung pembangunan serta memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

Guru Besar Manajemen Strategik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Prof. Badri Munir Sukoco, S.E., M.B.A., Ph.D., yang hadir sebagai pembicara utama, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi dosen manajemen.

Menurutnya, perkembangan industri yang semakin dinamis perlu diikuti dengan penyesuaian kurikulum dan pendekatan pembelajaran di perguruan tinggi. Program studi manajemen perlu merespons kebutuhan dunia kerja agar pengetahuan yang diberikan kepada mahasiswa tidak tertinggal dari perubahan praktik bisnis.


FMI Jawa Timur XVIII 2026 menyoroti inovasi manajemen, transformasi digital, AI, dan kolaborasi riset untuk memperkuat daya saing Indonesia. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

Pengembangan keilmuan juga dapat dilakukan melalui penggabungan sejumlah program studi. Pendekatan ini dinilai membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan multidisiplin, sehingga mampu memahami persoalan organisasi dan bisnis dari berbagai sudut pandang.

Inovasi pendidikan manajemen tersebut menjadi penting ketika dunia usaha tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknis, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu berpikir strategis, beradaptasi dengan teknologi, dan mengambil keputusan berdasarkan analisis yang komprehensif.

Ketua FMI Pusat, Sri Gunawan, DBA, menyoroti perubahan lingkungan bisnis yang semakin kompleks. Transformasi digital, perkembangan kecerdasan buatan, dan tuntutan keberlanjutan telah memengaruhi cara organisasi menjalankan operasional hingga menentukan kebijakan strategis.

“Kita menghadapi perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis: transformasi digital, perkembangan kecerdasan buatan, tantangan keberlanjutan, serta perubahan cara organisasi bekerja dan mengambil keputusan. Ilmu manajemen dituntut tidak hanya menghasilkan konsep, tetapi juga menawarkan pemahaman dan solusi yang dapat diuji serta diterapkan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa inovasi manajemen tidak cukup berhenti pada pemanfaatan teknologi. Organisasi juga perlu mengembangkan metode pengambilan keputusan, pola kerja, serta strategi bisnis yang mampu menjawab tantangan secara terukur.

Dalam konteks akademik, penelitian manajemen diharapkan menghasilkan pengetahuan yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dengan demikian, hubungan antara riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Selain Prof. Badri, seminar tersebut menghadirkan Suyanto Mahdiputra, Ph.D., pendiri sekaligus CEO Royal Segoro Group, perusahaan yang bergerak di bidang Engineering Procurement Construction Management (EPCM). Kehadiran akademisi dan praktisi membuka ruang pembahasan mengenai hubungan antara pengembangan teori manajemen dan penerapannya dalam dunia usaha.

Semnas FMI Jawa Timur XVIII 2026 diikuti 1.015 peserta melalui skema hybrid, terdiri atas 721 peserta daring dan 294 peserta luring. Para peserta berasal dari 198 perguruan tinggi dan institusi yang tersebar di 27 provinsi serta 88 kota di Indonesia.

Sekretaris Jenderal FMI, Dr. Tuwanku Aria Auliandri, S.E., M.Sc., dari FEB Unair, menilai forum akademik lintas institusi memiliki peran penting dalam mempertemukan hasil penelitian, perspektif keilmuan, dan pengalaman praktis.

“Forum seperti ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan perspektif, hasil penelitian, dan pengalaman dari berbagai perguruan tinggi maupun institusi. Kami berharap interaksi ini dapat mendorong kolaborasi yang berkelanjutan, menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha, serta memperkuat kontribusi ilmu manajemen bagi pembangunan Indonesia,” tuturnya.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan selama seminar. Pertemuan antara peneliti, perguruan tinggi, dan praktisi dapat membuka peluang pengembangan riset bersama, sekaligus mendorong penerapan hasil penelitian untuk menjawab kebutuhan organisasi dan masyarakat.

Ketua Panitia FMI XVIII Jawa Timur, Dr. Yetty Dwi Lestari, S.E., M.T., juga menekankan pentingnya tindak lanjut dari setiap pembahasan ilmiah yang berlangsung dalam forum tersebut.

“Kami berharap forum ini bukan hanya menjadi tempat penyampaian hasil penelitian, melainkan juga ruang dialog yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan peluang kerja sama yang dapat ditindaklanjuti setelah kegiatan berakhir,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan FMI Jawa Timur XVIII 2026 diawali dengan lokakarya pada 20 Oktober 2026 yang menghadirkan Prof. Dr. Ananda Sabil Husein, S.E., M.Com., Wakil Dekan I FEB Universitas Brawijaya, Malang.

Lokakarya tersebut membahas strategi memperoleh hibah penelitian bagi dosen. Materi mencakup pemilihan tema riset, penyusunan proposal, hingga pengelolaan pendanaan penelitian.

Pembahasan ini berkaitan dengan upaya memperkuat kapasitas peneliti di lingkungan perguruan tinggi. Kemampuan menyusun penelitian yang terarah dan relevan menjadi salah satu faktor penting untuk menghasilkan temuan yang dapat memperkaya ilmu pengetahuan sekaligus memberikan solusi atas persoalan di masyarakat.

FMI Jawa Timur XVIII 2026 merupakan penyelenggaraan seminar nasional tahunan ke-18 sejak asosiasi tersebut dibentuk. FMI didirikan di FEB Universitas Airlangga pada 2008 sebagai wadah akademik dan profesional yang mempertemukan dosen, peneliti, mahasiswa, praktisi, serta profesional di bidang manajemen.

Melalui kegiatan ilmiah, diseminasi hasil penelitian, dan pertukaran pengetahuan, FMI mendorong pengembangan ilmu manajemen yang mampu mengikuti perubahan zaman. Tantangan transformasi digital, pemanfaatan AI, dan keberlanjutan kini menuntut pendekatan yang lebih adaptif agar riset serta pendidikan manajemen dapat memberikan kontribusi nyata bagi organisasi, industri, dan pembangunan nasional.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut