Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Perkuat Budaya Literasi Sekolah, SMAN 22 Surabaya Kembangkan Sistem Digital Terpadu
Advertisement . Scroll to see content

Program Ketahanan Pangan Masuk Sekolah, Jatim Dorong Siswa Lebih Mandiri

Rabu, 28 Oktober 2026 | 09:53 WIB
  • author Lukman Hakim
Program Ketahanan Pangan Masuk Sekolah, Jatim Dorong Siswa Lebih Mandiri
Lewat program SIKAP, siswa di Jatim belajar menanam hingga beternak. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mendorong kemandirian siswa melalui Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). 

Program ini mengajak peserta didik terlibat langsung dalam budidaya tanaman pangan dan hewan ternak, sekaligus menanamkan karakter disiplin, tanggung jawab, dan gotong royong.

Melalui program tersebut, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar teori di ruang kelas, tetapi juga ruang praktik bagi siswa untuk mengenal proses produksi pangan. 

Mereka belajar menanam, merawat, hingga memanen tanaman, serta memahami cara membudidayakan hewan ternak sesuai dengan potensi dan kondisi lingkungan sekolah.

Pada 2026, Program SIKAP telah diterapkan di 1.548 sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jatim. Jumlah itu terdiri atas 596 SMA, 759 SMK, dan 193 SLB.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, keterlibatan siswa dalam kegiatan budidaya pangan menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang mandiri sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, penguatan ketahanan pangan tidak harus selalu dimulai dari lahan pertanian berskala besar. Lingkungan sekolah dengan lahan terbatas pun dapat dimanfaatkan sebagai tempat pembelajaran produktif.

“Ketahanan tidak harus dari lahan luas yang berhektar-hektar, tetapi dapat dimulai dari lahan seadanya yang kita miliki, dari lahan yang ada di sekolah diolah menjadi lebih produktif,” ujar Khofifah, Rabu (28/10/2026).

Ia menjelaskan, Program SIKAP memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami proses budidaya secara langsung. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki pengalaman dalam mengelola sumber daya di sekitarnya.

“Program SIKAP ini mengajarkan tidak hanya pendidik dan tenaga kependidikan, tetapi juga anak-anak untuk bisa membudidayakan tanaman pangan dan hewan ternak yang dimulai di lingkungan sekolah,” katanya.

Khofifah menambahkan, keterlibatan langsung dalam proses budidaya dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab pada diri siswa. Mereka belajar merawat tanaman dan ternak yang dikelola bersama hingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

“Anak-anak dan warga sekolah akan memiliki keterikatan dengan apa yang ditanam. Mereka akan bertanggung jawab menjaga, memelihara apa yang mereka tanam, apa yang mereka semai,” tuturnya.

Selain membangun kemandirian, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembentukan karakter. Siswa belajar bekerja sama, mengembangkan kreativitas, menjaga lingkungan, serta memahami bahwa proses menghasilkan pangan membutuhkan ketekunan dan tanggung jawab.

Program SIKAP juga sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Melalui pendekatan ini, siswa terlibat aktif dalam kegiatan mengamati, mencoba, dan mengeksplorasi berbagai metode budidaya. Pengalaman tersebut diharapkan membantu mereka menghubungkan materi pembelajaran dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Khofifah menilai, kegiatan menanam dan beternak di sekolah dapat menjadi ruang bagi siswa untuk berinovasi. Dengan memanfaatkan lahan maupun media tanam yang tersedia, sekolah diharapkan mampu mengembangkan metode budidaya yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

“Anak-anak dan seluruh warga sekolah didorong untuk dapat berinovasi sekaligus berupaya mewujudkan ketahanan pangan, bagaimana memanfaatkan lahan dan media tanam, akan terdorong melahirkan inovasi-inovasi untuk implementasi program SIKAP,” ucapnya.

Ia berharap, tanaman dan ternak yang dikembangkan melalui program tersebut dapat dirawat secara berkelanjutan hingga menghasilkan produk yang bermanfaat. Hasil budidaya itu juga berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan di lingkungan sekolah.

“Anak-anak ini harus semangat menjaga, memelihara agar semua bisa terus tumbuh subur dan bisa menghasilkan, bisa untuk suplai di internal sekolah,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, Program SIKAP merupakan upaya Pemprov Jatim menyelaraskan inovasi pendidikan dengan agenda penguatan ketahanan pangan.

Menurut Aries, program yang telah berjalan sekitar dua setengah tahun tersebut terus dikembangkan di sekolah-sekolah di berbagai daerah. Ke depan, pelaksanaannya diharapkan dapat diperluas ke sekolah swasta pada jenjang SMA, SMK, dan SLB dengan menyesuaikan ketersediaan lahan serta kemampuan masing-masing sekolah.

Aries menilai, pengenalan pertanian, perkebunan, dan peternakan sejak di bangku sekolah dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam bagi peserta didik.

“Program ini diawali dari sekolah di Provinsi Jatim, bagaimana anak-anak kita, murid-murid kota tumbuh berkembang di alam dengan mengenal alam dan mengenal juga sistem pertanian, perkebunan, dan juga peternakan,” pungkasnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut