Eco Green ITS Bina UMKM Ecoprint, dari Pelatihan Produksi hingga Pemasaran
KEDIRI, iNewsSurabaya.id – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pendampingan usaha ecoprint, teknik pembuatan motif kain menggunakan daun dan bagian tumbuhan alami.
Program ini tidak hanya berfokus pada keterampilan menghasilkan produk, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas, pengembangan usaha, hingga strategi pemasaran agar produk masyarakat memiliki nilai ekonomi.
Ketua Pengabdian Masyarakat atau PKM ITS di Badas, Kediri, Prof. Setiawan, menjelaskan, kegiatan pendampingan UMKM ecoprint telah dilakukan secara berkelanjutan sejak 2023 hingga 2026. Program tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurut dia, pengembangan UMKM memerlukan pendampingan menyeluruh. Pelatihan produksi saja tidak cukup apabila pelaku usaha belum memiliki kemampuan untuk memasarkan hasil karyanya.
“Pengabdian masyarakat ini tidak berhenti pada pembuatan produk. Kami juga mendampingi bagaimana produk tersebut bisa dipasarkan sehingga memiliki nilai ekonomi dan dapat dikembangkan menjadi usaha,” ujar Prof. Setiawan.

Ia menjelaskan, pengembangan ecoprint memiliki keunggulan karena memanfaatkan bahan alami yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Daun dan berbagai jenis tumbuhan dapat digunakan untuk menghasilkan motif khas pada kain, sehingga setiap produk memiliki karakter tersendiri.
Ketertarikan terhadap ecoprint juga didukung pengalaman pendampingan masyarakat. Prof. Setiawan menilai, teknik ini lebih mudah dipelajari oleh peserta dibandingkan batik tulis yang membutuhkan proses pengerjaan panjang serta keterampilan khusus untuk menghasilkan kualitas yang baik.
“Kalau ecoprint, berdasarkan pengalaman saya mendatangi peserta yang pernah dilatih, tingkat keberhasilannya sangat tinggi. Keterampilan memang tetap membutuhkan jam terbang, tetapi teknik ini relatif mudah dipelajari masyarakat,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, tim ITS juga menjalin kerja sama dengan pelaku UMKM dan Asosiasi Eco Print Indonesia (AEPI) Jawa Timur. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas pendampingan sekaligus membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan produksi dan pemasaran.
Jangkauan program tidak hanya terbatas pada kelompok masyarakat di sekitar kampus. Pendampingan juga dilakukan di sejumlah pesantren, sejalan dengan upaya mendorong kemandirian ekonomi melalui pengembangan potensi usaha lokal.
Prof. Setiawan menyebut sejumlah wilayah yang pernah menjadi lokasi kegiatan, di antaranya Lamongan, Trowulan, Gresik, dan Mojokerto. Kelompok perempuan juga menjadi bagian penting dari program karena memiliki peluang mengembangkan ecoprint sebagai usaha produktif berbasis rumah tangga.
Menurut dia, pemanfaatan tanaman di sekitar tempat tinggal dapat menjadi salah satu modal awal untuk mengembangkan produk kreatif. Dengan keterampilan yang tepat, bahan alam tersebut bisa diolah menjadi kain dan berbagai produk bernilai jual.
Pendampingan berkelanjutan menjadi faktor penting agar peserta tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga memahami kebutuhan pasar. Konsistensi kualitas, pengalaman produksi, dan kemampuan menjangkau konsumen menjadi tantangan yang perlu diperhatikan pelaku UMKM.
Melalui program pengabdian masyarakat tersebut, ITS berharap keterampilan ecoprint dapat berkembang menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan. Penguatan kapasitas masyarakat sekaligus pemanfaatan bahan alam secara kreatif menjadi bagian dari upaya membangun UMKM yang produktif dan memiliki daya saing.
Editor: Arif Ardliyanto