Dindik Jatim Dorong AI Masuk Pembelajaran SMK, Siapkan Lulusan Adaptif Industri
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran di sekolah menengah kejuruan (SMK). Langkah ini dilakukan untuk mempersiapkan lulusan pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Pemanfaatan AI di lingkungan sekolah tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mengembangkan kreativitas, inovasi, serta kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan demikian, lulusan SMK diharapkan tidak sekadar menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan solusi kreatif sesuai kebutuhan dunia kerja.
Upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar internasional bertajuk International Seminar Featuring Speakers From Three Continents: AI Powered Creative Ecosystems yang diselenggarakan Dindik Jatim.
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara internasional, di antaranya Wakil Presiden BOKE Technology Wang Cen dan Dekan School of Design Bennett University, India, Dr. Manisha Mohan. Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas guru, kepala SMK, serta kepala cabang dinas pendidikan wilayah di Jatim.
Wang Cen mengatakan, perkembangan AI menuntut dunia pendidikan vokasi menyesuaikan metode pembelajaran. Penguasaan keterampilan teknis perlu diimbangi kemampuan berpikir kreatif, berinovasi, dan menggali potensi diri.
Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran di berbagai bidang, mulai dari desain, penulisan skenario, hingga penyuntingan film.
Dalam pembelajaran desain, misalnya, guru dapat memberikan tema kepada siswa. Selanjutnya, rancangan awal yang dihasilkan AI menjadi bahan evaluasi untuk dikritisi, diperbaiki, dan dikembangkan sesuai kreativitas masing-masing siswa.
Melalui metode tersebut, siswa tidak hanya mengandalkan hasil teknologi untuk menyelesaikan tugas. Mereka juga dilatih mengevaluasi hasil kerja AI, mengembangkan gagasan, serta menghasilkan karya berdasarkan pemikiran sendiri.
“Penguasaan teknologi itu sendiri tidak lagi menjadi yang utama, melainkan bagaimana menemukan potensi diri, jati diri kemanusiaan kita, dan daya inovasi kita. Bagaimana kita menggunakan AI untuk menemukan cara agar kita bisa menjadi lebih manusiawi di era ini,” ujar Wang Cen, Senin (2/11/2026).
Ia menambahkan, AI juga dapat mendukung pembelajaran berbasis diskusi dan personalisasi materi. Siswa dapat mengeksplorasi teori melalui AI sebelum mendiskusikan hasil pemahamannya bersama guru dan teman sekelas.
Melalui pendekatan personalized learning, materi dan latihan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan masing-masing siswa.
Meski demikian, Wang Cen menegaskan bahwa teknologi AI tidak mengurangi pentingnya peran guru. Sebaliknya, guru dituntut semakin kreatif dalam merancang pengalaman belajar yang mendorong siswa berpikir kritis dan inovatif.
“Setelah hadirnya AI, tugas pengajaran justru menjadi lebih penting dan beban kerja menjadi lebih besar,” katanya.
Sementara itu, Dekan School of Design Bennett University, India, Dr. Manisha Mohan, menjelaskan bahwa penerapan AI dalam pendidikan perlu dilakukan secara bertahap melalui tiga tahapan, yakni efisiensi, personalisasi, dan desain ulang pembelajaran.
Pada tahap efisiensi, AI dapat membantu guru mempercepat penyusunan rencana pembelajaran dan pekerjaan administratif. Selanjutnya, teknologi tersebut dapat digunakan untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa hingga mendorong perubahan kurikulum dan sistem penilaian.
Namun, Manisha mengingatkan bahwa keberhasilan penerapan AI tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi. Kesiapan sekolah, kompetensi guru, ketersediaan perangkat, serta kebijakan yang jelas juga menjadi faktor penting.
Pemerataan akses, menurutnya, harus menjadi perhatian agar pemanfaatan AI tidak justru memperlebar kesenjangan pendidikan.
“Investasi terbesar kita bukan pada perangkat, melainkan waktu bagi guru untuk belajar,” ujarnya.
Manisha juga mendorong sekolah mengembangkan sistem penilaian yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir. Proses belajar siswa perlu menjadi perhatian, antara lain melalui penilaian draf pekerjaan, refleksi, hingga presentasi untuk melihat kemampuan berpikir dan kontribusi individual.
Kolaborasi pengembangan kompetensi AI antara Dindik Jatim dan BOKE Technology sendiri telah berlangsung sejak Mei 2026. Salah satu hasilnya terlihat melalui pelatihan guru yang menghasilkan karya animasi bertema Pahlawan Jatim.
Tim BOKE Technology menilai para peserta mampu menghasilkan karya untuk kompetisi tersebut dalam waktu sekitar 20 hari setelah mengikuti pelatihan.
Melalui penguatan kompetensi guru dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran, Dindik Jatim mendorong pendidikan vokasi semakin adaptif terhadap perkembangan industri kreatif.
Lulusan SMK diharapkan tidak hanya terampil menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, menciptakan inovasi, beradaptasi dengan perubahan, serta menghasilkan karya orisinal yang relevan dengan kebutuhan dunia industri.
Editor: Arif Ardliyanto