Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : KPK Tetapkan 21 Tersangka Kasus Suap Hibah Pokmas Jatim, Empat Langsung Ditahan, Sinyal Bahaya!
Advertisement . Scroll to see content

Bikin Miris! Kekayaan 50 Orang Terkaya Setara 55 Juta Rakyat, Profesor Ini Sentil Korupsi

Minggu, 08 November 2026 | 14:29 WIB
  • author Trisna Eka Adhitya
Bikin Miris! Kekayaan 50 Orang Terkaya Setara 55 Juta Rakyat, Profesor Ini Sentil Korupsi
Prof Zainal Arifin Mochtar menyoroti korupsi dan ketimpangan kekayaan di Indonesia. Mahasiswa diminta berani mengawal demokrasi. Foto iNewsSurabaya.id/trisna

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Praktik korupsi dan kemunduran kualitas demokrasi menjadi tantangan serius bagi perjalanan bangsa Indonesia. Di tengah persoalan tersebut, mahasiswa dituntut tidak sekadar menjadi penonton, tetapi berani bersuara kritis dan ikut mengawasi jalannya kekuasaan.

Pesan tegas itu disampaikan pakar hukum tata negara Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar dalam kuliah umum bertajuk "Merdeka tapi Korupsi" di Dian Auditorium Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Kegiatan tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan akademisi lintas kampus dengan Kandi Aryani Suwito sebagai moderator.

Dalam forum tersebut, Prof. Zainal mengkritisi anggapan bahwa korupsi merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Menurutnya, cara pandang seperti itu justru berbahaya karena dapat membuat tindakan koruptif seolah menjadi sesuatu yang biasa dan sulit diberantas.

Dia menegaskan, korupsi bukan persoalan budaya, melainkan masalah struktural yang berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan, lemahnya pengawasan, serta buruknya tata kelola pemerintahan.

Dampak korupsi pun jauh lebih luas dibandingkan sekadar kerugian keuangan negara. Praktik tersebut dapat menghambat pembangunan, menurunkan kualitas pelayanan publik, merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara, hingga memperbesar kesenjangan sosial.

Sebagai gambaran, Prof. Zainal menyinggung ketimpangan distribusi kekayaan di Indonesia. Dia menyebut kekayaan 50 orang terkaya di Tanah Air setara dengan kekayaan 55 juta rakyat.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa pengelolaan kekuasaan dan sumber daya publik harus berjalan secara adil. Pemberantasan korupsi juga tidak bisa dipisahkan dari upaya membangun pemerintahan yang transparan dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Selain menyoroti korupsi, Prof. Zainal mengajak mahasiswa kembali melihat Pancasila sebagai landasan dalam menilai kualitas demokrasi dan penyelenggaraan negara.

Menurutnya, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan atau sekadar simbol dalam kegiatan seremonial. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus diwujudkan melalui kebijakan dan tindakan nyata, termasuk penghormatan terhadap kebebasan beragama, perlindungan martabat manusia, serta pemerataan keadilan sosial.

Dia juga mengingatkan pentingnya mekanisme checks and balances atau pengawasan dan keseimbangan antarlembaga negara. Sistem tersebut menjadi instrumen penting untuk mencegah kekuasaan terpusat pada satu pihak yang berpotensi memicu penyalahgunaan wewenang.

Prof. Zainal menilai demokrasi tidak cukup hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umum. Demokrasi yang sehat harus menjamin kebebasan masyarakat, supremasi hukum, akuntabilitas pemerintah, serta keadilan bagi seluruh warga negara.

Di hadapan mahasiswa, dia secara khusus meminta generasi muda tidak apatis terhadap persoalan sosial dan politik. Kampus harus menjadi ruang tumbuhnya keberanian intelektual, tempat mahasiswa bebas menyampaikan pendapat, menguji kebijakan, sekaligus mempertahankan integritas.

"Anak muda adalah pemilik masa depan. Karena Anda adalah pemilik masa depan, maka Anda harus memimpin di masa mendatang. Itu harga mati," tegasnya.

Dia menambahkan, pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademis maupun kemampuan profesional. Integritas moral, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kepedulian terhadap kepentingan publik harus menjadi bagian dari karakter generasi penerus bangsa.

Melalui kuliah umum ini, Universitas Ciputra Surabaya berupaya menghubungkan pengetahuan akademis dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Isu pemberantasan korupsi dan penguatan demokrasi menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kritis sivitas akademika.

Forum tersebut sekaligus mengingatkan bahwa makna kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya Indonesia dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui pemerintahan yang bersih, demokrasi yang sehat, penegakan hukum, dan keadilan sosial.

Tantangan itulah yang harus dijawab generasi muda agar masa depan Indonesia tidak hanya diwarisi, tetapi juga diperjuangkan dengan keberanian dan integritas.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut