Untuk sisi utara sungai avour Wonorejo, kata dia, perusakan mangrove terjadi pada dua titik. Hal itu menyebabkan puluhan mangrove jenis Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculate, Avicenia alba dan Avicenia marina mati ditimbun lumpur untuk meninggikan tanggul dua tambak.
"Mengapa hanya dua tambak? diduga untuk ini pemilik tambak membayar sewa alat berat," ujarnya.
"Jadi tidak benar lumpur hasil penggerukan sungai diletakan dititik yang tidak ada mangrove nya," lanjutnya.
Lumpur hasil penggerukan sungai diletakan di tepi sungai (sisi selatan) sepanjang kurang lebih 500 meter. "Ini menyebabkan ratusan mangrove mati karena tertimbun lumpur," kata dia.
Padahal, kata Hermawan, Konsursium Rumah Mangrove melakukan pendampingan di mangrove Wonorejo sejak tahun 2007, dan aktif melakukan penanaman Sungai avour wonorejo sejak tahun 2012.
Penanaman awal dilakukan pada peringatan HUT kota Surabaya tahun 2012 yang melibatkan banyak pihak termasuk Walikota Surabaya.
"Setelah itu kami terus melakukan penanaman yang melibatkan banyak pihak baik siswa sekolah, mahasiswa, komunitas termasuk Bonek Garis Hijau. Catatan kami lebih dari 500.000 mangrove yang sudah ditanam disepanjang sungai avour Wonorejo," jelasnya.
Bahkan titik lokasi penanaman mangrove yang dilakukan mengikuti arah panitia peringatan HUT Kota Surabaya tahun 2012.
"Dan selama ini tidak pernah ada peringatan atau pemberitahuan bahwa kami menanam dilokasi yang salah," ujarnya.
Editor : Ali Masduki
Artikel Terkait