Fenomena ini juga mendapat perhatian dari para akademisi. Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA, dosen Ilmu Komunikasi Untag Surabaya, dan Mohammad Insan Romadhan, S.I.Kom., M.Med.Kom., Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi di kampus yang sama, memberikan pandangan mereka.
Menurut Drs. Widiyatmo, perkembangan kecakapan berbicara di kalangan anak muda Surabaya sangat dipengaruhi oleh digitalisasi, terutama selama pandemi COVID-19. “Anak muda menjadi sangat aktif melihat konten di media sosial. Hal ini menciptakan budaya baru, di mana kecakapan berbicara atau public speaking menjadi bagian penting dari kehidupan mereka,” jelasnya.
Senada dengan Drs. Widiyatmo, Mohammad Insan menambahkan bahwa Generasi Z memiliki ciri khas dalam gaya berbicara yang lebih fleksibel dan tidak terlalu formal dibandingkan generasi sebelumnya. “Public speaking sudah menjadi budaya baru yang positif di kalangan Gen Z dan harus terus diarahkan ke hal-hal yang konstruktif,” katanya.
Dengan berbagai dinamika tersebut, kemampuan public speaking kini menjadi kebutuhan utama bagi Generasi Z di Surabaya, khususnya para mahasiswa. Keahlian ini tidak hanya membantu mereka bertahan dalam lingkungan sosial yang dikenal keras, tetapi juga menjadi modal penting untuk menghindari potensi perundungan yang kerap dialami oleh mahasiswa perantau yang kesulitan beradaptasi.
Penulis: Muhammad Daffa Ramadhan ( Mahasiswa Untag )
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait