Rizal bahkan mengaku telah mengajukan cuti jauh-jauh hari demi bisa merayakan Idul Adha bersama keluarga besar di kampung halaman. “Ini momen istimewa. Kami semua berkumpul, makan bersama, dan salat Ied bareng,” lanjutnya.
Nyekar dan Silaturahmi Jadi Agenda Utama
Samsul Bahri, warga asal Sampang, juga mengungkapkan pentingnya tradisi Toron. Menurutnya, selain berkumpul dengan keluarga, tradisi ini juga menjadi waktu untuk nyekar atau ziarah ke makam leluhur.
“Kami selalu sempatkan untuk nyekar ke makam orang tua dan kakek-nenek. Ini bentuk penghormatan dan doa kami untuk mereka yang telah mendahului,” kata Samsul.
Ribuan perantau asal Madura rela menempuh perjalanan panjang dan macet demi bisa merayakan hari raya bersama keluarga di kampung halaman. Foto iNewsSurabaya/rizal
Toron juga menjadi ajang memperluas silaturahmi. Tidak sedikit warga yang memanfaatkan momen ini untuk bersua dengan kerabat jauh yang jarang bertemu karena kesibukan di perantauan.
Tradisi Toron yang berlangsung setiap Hari Raya Idul Adha menunjukkan betapa kuatnya nilai kekeluargaan dan spiritualitas dalam budaya masyarakat Madura. Meski harus menempuh kemacetan panjang dan antrean kendaraan, semangat untuk kembali ke akar dan merayakan hari besar bersama keluarga tetap menjadi prioritas utama.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
