SURABAYA, iNewsSurabaya.id – PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur (Jatim) terus memperkuat komitmen dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sejalan dengan rencana pembangunan pembangkit yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
General Manager PLN UID Jatim, Ahmad Mustaqir menjelaskan, RUPTL yang telah disahkan pemerintah memuat rencana pembangunan pembangkit EBT dalam jumlah yang signifikan. Karena itu, PLN di tingkat unit melaksanakan berbagai program untuk mendorong percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
“Salah satu tujuan program ini adalah mendorong pengembangan energi baru terbarukan. Kami ingin pemanfaatan EBT semakin masif dan dipahami oleh masyarakat,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Untuk memperluas edukasi publik, menggelar kegiatan Virtual Journey to Green Power, sebuah rangkaian kegiatan berbasis teknologi virtual reality (VR) yang memungkinkan peserta melihat secara secara virtual terkait operasional pembangkit EBT.
Dalam simulasi tersebut, peserta dapat melihat kapasitas pembangkit sekaligus proses produksi listrik, termasuk pengolahan sampah menjadi energi di PLT-SA Benowo.
Selain pengoperasian pembangkit, PLN juga memanfaatkan digitalisasi untuk meningkatkan pengawasan jaringan.
Mustaqir mengungkapkan, PLN memiliki Unit Pelaksana Pengatur Distribusi (UP2D) yang dapat memonitor seluruh gardu induk di Jatim dari satu pusat kontrol.
“Di gedung UP2D, seluruh gardu induk dapat dipantau real-time. Kami bisa melihat aktivitas pemeliharaan, mengontrol peralatan gardu induk, hingga jaringan menengah 20 kV,” ujarnya.
Menurutnya, teknologi digital ini memungkinkan PLN merespons gangguan lebih cepat, serta melakukan tindakan perbaikan dan pengoperasian peralatan lapangan dengan lebih efektif. “Semua ini sudah kami jalankan sebagai bagian dari transformasi digital PLN,” tegas Mustaqir.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan kesiapan Jatim dalam menyukseskan program transisi ke energi baru terbarukan menuju keberlanjutan dan kemandirian energi.
Jatim, kata dia, siap menjadi bagian penting dari roadmap energi nasional khususnya swasembada energi sekaligus mendukung Net Zero Emission 2060. “Baik melalui energi terbarukan maupun dukungan terhadap peningkatan lifting migas nasional,” terangnya.
Jatim sendiri, kata Khofifah, memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru dan terbarukan. Sejumlah wilayah seperti Bondowoso, Banyuwangi, Pacitan, hingga Situbondo memiliki sumber daya alam yang mendukung pengembangan energi panas bumi, angin, dan air.
“Potensi EBT di Jatim sangat besar. Dengan sinergi pusat dan daerah, kami optimistis bisa mempercepat pemanfaatan energi hijau sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan," tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, RUPTL 2025–2034 menjadi landasan utama bagi Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060 serta mendorong kedaulatan energi nasional.
Dalam RUPTL terbaru ini, pemerintah menetapkan porsi bauran EBT dan sistem penyimpanan energi (storage) hingga 76% atau sebesar 52,9 GW dari total tambahan kapasitas pembangkit yang terdiri dari pembangkit tenaga surya sebesar 17,1 GW, tenaga air 11,7 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan energi nuklir 0,5 GW.
Pembangkit hijau tersebut juga ditopang oleh sistem penyimpanan energi sebesar 10,3 GW yang terdiri atas pumped storage dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 6 GW dan battery energy storage system (BESS) 4,3 GW.
Sementara porsi energi fosil hanya mencakup sekitar 24% dari total kapasitas tambahan yang terdiri atas pembangkit berbahan bakar gas sebesar 10,3 GW dan batubara sebesar 6,3 GW.
”Ini semua kita lakukan dengan memperhitungkan, mempertimbangkan tingkat pertumbuhan ekonomi kita. Jadi konsumsi listrik per kapita kita juga kita sudah hitung secara seksama,” ujar Bahlil.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
