JAKARTA, iNewsSurabaya.id – Harapan pelaku UMKM berbasis syariah untuk menembus pasar internasional kini kian terbuka. Selama ini, banyak produk lokal berkualitas harus tertahan di dalam negeri karena terkendala standar ekspor, biaya logistik, hingga minimnya pendampingan teknis.
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Syariah resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) guna memangkas berbagai hambatan ekspor yang selama ini menjadi momok pelaku usaha kecil dan menengah.
Bagi sebagian UMKM, ekspor bukan sekadar soal mengirim barang ke luar negeri. Ada proses panjang yang kerap membuat pelaku usaha kewalahan: sertifikasi, standarisasi kualitas, regulasi negara tujuan, hingga biaya distribusi yang tidak sedikit. Di sinilah HIPMI Syariah ingin mengambil peran lebih besar.
Wakil Sekretaris Umum BPP HIPMI Syariah, Fahmi Rafif, menegaskan organisasinya siap menjadi agregator UMKM syariah. Artinya, HIPMI Syariah tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung, pendamping, sekaligus penguat standar produk sebelum benar-benar masuk pasar global.
“Potensi UMKM syariah kita sangat besar. Banyak produk yang sebenarnya siap bersaing, tetapi belum mendapatkan pendampingan yang tepat. Kami ingin memastikan mereka benar-benar siap saat masuk pasar internasional,” ujar Fahmi saat berdialog dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Menurutnya, persoalan utama bukan pada kualitas dasar produk, melainkan pada struktur pembinaan yang belum merata. Banyak pelaku usaha di daerah memiliki inovasi dan daya saing, tetapi belum tersentuh pelatihan ekspor yang komprehensif.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
