Eks Sekolah Soekarno Disulap Jadi Restoran, Cara Baru Menikmati Kuliner di Tengah Jejak Sejarah

Arif Ardliyanto
Destinasi kuliner baru di Surabaya hadir di bangunan cagar budaya eks Kantor Pos Kebon Rojo. 10 Regentstraat tawarkan pengalaman makan bernuansa sejarah dan hidangan Nusantara. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Tak hanya mengandalkan suasana, 10 Regentstraat juga serius dalam urusan menu. Hidangan yang disajikan mengangkat kekayaan kuliner Nusantara, namun dengan sentuhan nostalgia yang kuat.

Beberapa menu yang ditawarkan antara lain: Bitterballen, camilan khas peninggalan kolonial, Klappertaart dengan rasa klasik, Olahan ayam, bebek, dan seafood, dan Hidangan tradisional seperti karedok

Untuk minuman, sensasi tempo dulu juga terasa melalui sajian seperti limun Cap Badak yang membawa ingatan pada cita rasa lawas.


Destinasi kuliner baru di Surabaya hadir di bangunan cagar budaya eks Kantor Pos Kebon Rojo. 10 Regentstraat tawarkan pengalaman makan bernuansa sejarah dan hidangan Nusantara. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Setiap menu seolah menjadi penghubung antara generasi—menghadirkan rasa yang akrab, namun dikemas dalam pengalaman yang berbeda.

Direktur PT Imperium Buana Sakti, Steffiani Setyadji, menyebut konsep yang diusung bukan sekadar restoran, melainkan ruang yang menghidupkan memori kolektif kota.

Menurutnya, bangunan bersejarah seperti ini memiliki cerita panjang yang sayang jika hanya menjadi artefak diam. Dengan pendekatan kuliner, masyarakat bisa merasakan sejarah secara lebih dekat dan relevan.

Hal senada disampaikan CEO Pos Bloc Surabaya, Jimmy Saputro. Ia melihat kehadiran tempat seperti ini sebagai langkah awal untuk menghidupkan kembali kawasan Kota Lama.

Revitalisasi, menurutnya, tak cukup hanya dengan menjaga bangunan, tetapi juga menghadirkan aktivitas yang membuatnya kembali bernapas. Kuliner menjadi salah satu pintu masuk paling efektif karena dekat dengan keseharian masyarakat.

Dengan harga yang relatif terjangkau, 10 Regentstraat membuka peluang bagi siapa saja untuk merasakan sensasi makan di bangunan berusia ratusan tahun.

Perpaduan antara cagar budaya, arsitektur kolonial, dan kuliner Nusantara menjadikan tempat ini lebih dari sekadar restoran. Ia hadir sebagai ruang temu antara masa lalu dan masa kini—tempat di mana orang tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga untuk merasakan cerita.

Di tengah modernisasi kota, kehadiran destinasi seperti ini menjadi pengingat sederhana: bahwa sejarah tidak harus selalu dibaca di buku, kadang cukup dinikmati di atas meja makan.

Editor : Arif Ardliyanto

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network