Reses di Ketintang, Anggota DPRD Surabaya Minta PJU Kuning Ketintang Segera Diganti LED
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Agoeng Prasodjo, memilih pola berbeda dalam pelaksanaan reses masa persidangan ketiga tahun anggaran 2026. Dalam forum reses bersama warga Ketintang, berbagai persoalan masyarakat langsung ditindaklanjuti di lokasi dengan menghubungi kepala dinas hingga lurah terkait.
Menurut Agoeng, pola reses yang hanya menampung aspirasi tanpa kejelasan tindak lanjut kerap membuat masyarakat kecewa. Oleh karena itu, ia memilih mengeksekusi laporan warga secara langsung saat forum berlangsung.
“Kalau masyarakat sudah menyampaikan keluhan, ya harus ada tindak lanjut. Makanya gaya reses saya ubah. Kalau urusan PJU (Penerangan Jalan Umum) saya langsung telepon, urusan lalu lintas saya langsung hubungi dinas terkait. Mereka yang janji ke warga, mereka juga yang harus melaksanakan,” ujar Agoeng, Selasa (26/5/2026).
Ia menilai anggota DPRD harus memiliki komunikasi langsung dengan para kepala dinas, lurah, hingga camat. Langkah ini penting agar persoalan warga tidak berhenti di meja administrasi.
Dalam reses tersebut, warga menyampaikan sejumlah persoalan. Mulai dari masalah PJU yang masih menggunakan lampu kuning dan belum diganti ke LED, kepadatan lalu lintas, hingga kebutuhan fasilitas olahraga untuk dojo karate setempat.
Agoeng mengaku langsung menghubungi pejabat terkait setelah menerima laporan warga. Salah satunya mengenai penggantian lampu PJU yang dinilai lamban ditindaklanjuti.
“Ada laporan soal PJU yang belum diganti LED sampai tiga minggu tidak ada tindak lanjut. Saya langsung buka komunikasi dengan pihak terkait dan mereka janji minggu ini dikerjakan. Kalau belum terlaksana, warga saya minta langsung hubungi saya,” katanya.
Tak hanya itu, persoalan kepadatan lalu lintas di kawasan sekitar permukiman warga juga langsung disampaikan Agoeng kepada Dinas Perhubungan. Menurutnya, laporan langsung dari masyarakat penting agar pemerintah mengetahui titik-titik yang membutuhkan penanganan cepat.
Selain infrastruktur, warga juga menyampaikan kebutuhan matras untuk dojo karate yang selama ini berlatih secara mandiri. Padahal, sejumlah atlet muda dari wilayah tersebut telah berprestasi hingga tingkat nasional.
“Anak-anak ini sudah sampai level nasional, tapi fasilitas latihan minim. Saya langsung telepon bidang olahraga supaya ada perhatian karena mereka punya anggaran,” ujarnya.
Agoeng menegaskan bahwa transparansi dan kepastian tindak lanjut menjadi hal penting dalam setiap reses yang ia jalankan. Bahkan, ia mengaku tidak segan menghubungi lurah maupun dinas terkait di hadapan warga untuk memastikan kejelasan waktu pelaksanaan pekerjaan.
“Kalau memang ada yang bisa langsung diselesaikan, ya langsung. Jangan sampai warga hanya diberi janji tanpa kepastian,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu warga RT 1 RW 02 Ketintang, Kitri, mengaku puas dengan pola reses yang dilakukan Agoeng karena setiap aduan langsung ditindaklanjuti saat forum berlangsung.
“Alhamdulillah, hasil dari reses hari ini sangat memuaskan. Semua permasalahan yang kita usulkan langsung ditindaklanjuti oleh Pak Agoeng. Jadi tidak menunggu hari atau jam, detik itu juga langsung diselesaikan,” kata Kitri.
Menurut Kitri, pola reses seperti ini berbeda dibanding forum aspirasi yang selama ini biasa digelar. Sebab, warga dapat langsung mengetahui tindak lanjut dari setiap keluhan yang mereka sampaikan.
“Kalau dibandingkan yang lain, ini lebih langsung ditindaklanjuti. Ada realisasi langsung begitu kita menyampaikan keluhan. Biasanya kan hanya dicatat, lalu katanya nanti disampaikan ke dinas. Tapi kali ini langsung ada tindakan,” ujarnya.
Ia berharap pola reses yang responsif seperti ini dapat terus dipertahankan agar masyarakat merasa lebih diperhatikan dan mendapatkan kepastian atas setiap persoalan yang dihadapi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
