SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mendorong generasi muda menguasai teknologi dan membangun budaya inovasi untuk menghadapi tantangan global sekaligus menyongsong Indonesia Emas 2045.
Khofifah mengatakan, perkembangan teknologi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan. Karena itu, generasi muda harus mampu beradaptasi secara cepat agar memiliki daya saing.
Berdasarkan Global Innovation Index 2024, Indonesia menempati peringkat ke-54 dari 133 negara. Posisi tersebut masih berada di bawah Malaysia yang berada di peringkat ke-33 dan Singapura di posisi ke-4.
"Posisi ini harus menjadi motivasi bersama agar kita memiliki semangat untuk mengejar ketertinggalan. Anak-anak kita harus dibekali dan disiapkan menjadi Generasi Emas 2045," ujar Khofifah, Senin (3/8/2026).
Ia menambahkan, perubahan teknologi juga berdampak pada kebutuhan dunia kerja. Bahkan, pada 2030 diperkirakan sekitar 39 persen keterampilan utama di dunia kerja akan mengalami perubahan.
"Anak-anak dan generasi muda harus ikut berubah karena tuntutan dunia kerja juga berubah. Mereka harus lebih agile, adaptif, dan inovatif," katanya.
Untuk menyiapkan generasi yang mampu bersaing, Pemprov Jatim mengembangkan Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP). Melalui program tersebut, siswa didorong membangun budaya inovasi sejak di bangku sekolah.
Menurut Khofifah, ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui lahan pertanian berskala besar, tetapi juga dapat dimulai dari lingkungan sekolah dengan memanfaatkan lahan dan media tanam yang tersedia.
"Anak-anak dan seluruh warga sekolah didorong untuk berinovasi melalui pemanfaatan lahan dan media tanam. Mereka dilatih mencari solusi atas persoalan yang dihadapi sekaligus membangun kreativitas," ujarnya.
Program SIKAP, lanjut Khofifah, telah diterapkan di sejumlah sekolah, salah satunya SMA Negeri Taruna Nala Malang. Para siswa didorong berkompetisi menghasilkan inovasi dalam pemanfaatan lahan sekolah sebagai bagian dari pembelajaran.
Selain itu, Khofifah menilai bonus demografi menjadi modal besar bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Dari total 281,6 juta penduduk Indonesia, sekitar 190,9 juta di antaranya berada pada usia produktif.
"Potensi ini menjadikan generasi milenial dan Gen Z sebagai motor penggerak adaptasi digitalisasi. Bonus demografi harus dimanfaatkan secara optimal agar mampu membawa Indonesia menjadi negara maju," ucapnya.
Sementara itu, Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan generasi muda harus dipersiapkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing, dan berkarakter.
Menurutnya, sebagai bagian dari bonus demografi, anak-anak muda perlu memiliki budaya inovasi agar mampu menghadapi perubahan yang semakin cepat.
"Generasi muda harus memiliki pembiasaan yang erat kaitannya dengan inovasi sehingga siap menghadapi tantangan dan perubahan zaman," kata Destry.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
