Khofifah: Persatuan Harus Dijaga hingga Ruang Digital
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru dalam menjaga persatuan bangsa.
Ia menyebut tingkat penetrasi internet di Jawa Timur telah mencapai 83,41 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di angka 81,72 persen. Kondisi tersebut membuat upaya menjaga keutuhan bangsa tidak hanya dilakukan di ruang nyata, tetapi juga di dunia digital.
"Menjaga NKRI hari ini tidak cukup hanya di ruang fisik. Diseminasi informasi di ruang digital menjadi sangat penting. Membangun positive thinking, kebersamaan, dan persatuan harus menjadi prioritas," kata Khofifah.
Khofifah mengaku sempat menerima laporan mengenai beredarnya tautan anonim yang mengajak masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak jelas asal-usulnya.
Menurutnya, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Namun, kritik tersebut seharusnya disampaikan secara konstruktif dengan tetap menjaga semangat persatuan.
"Kritik adalah bagian dari demokrasi. Tetapi jangan sampai yang dibangun hanya negative thinking. Mari kita lihat juga berbagai kemajuan yang telah dicapai dan bersama-sama memberikan solusi terhadap kekurangan yang masih ada," ujarnya.
Stabilitas Keamanan Jadi Modal Menarik Investasi
Khofifah menambahkan, kerukunan sosial dan stabilitas keamanan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan investasi di Jawa Timur. Investor, menurutnya, akan mempertimbangkan kondisi keamanan suatu daerah sebelum menanamkan modal.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga kondusivitas daerah.
"Investasi akan masuk kalau kita bersama-sama menjaga Jawa Timur. Jogo Jatim bukan hanya tugas kepolisian, tetapi tugas kita semua," tegasnya.
Akademisi Dorong Dialog untuk Merawat Kebhinekaan
Pada dialog tersebut, akademisi Dr. Suko Widodo menekankan pentingnya membuka ruang komunikasi agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik.
Menurutnya, keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus dikelola melalui sikap saling menghormati dan kesediaan untuk mendengarkan pendapat orang lain.
"Jangan pernah menyeragamkan otak manusia. Yang penting adalah saling mendengar dan menghargai perbedaan," katanya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
